CARUBAN NAGARI-Nama Sancang bagi sebagian warga Sunda sudah tidak asing lagi karena nama ini mirip dengan nama daerah pakidulan Garut “Leuweung Sancang” alias Hutan Sancang. Keberadaan Hutan Sancang sendiri terkait mitos Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang berubah wujud menjadi harimau (basa Sunda: Maung) dan menetap di hutan sancang. Konon peristiwa itu terjadi karena Prabu Siliwangi tidak mau di-Islamkan oleh putranya yaitu ‘Kian Santang’.Â
Nama Kian Santang ini menjadi kontroversi. Apakah sosok sejarah ataukan sosok imajiner? ditambah lagi bahwa Kian Santang adalah kekeliruan penyebutan warga Sunda yang seharusnya “Kian Sancang”. Jadi mana yang benar?
Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang adalah sosok legendaris. Tidak main-main, nama Siliwangi diabadikan sebagai nama Komando Daerah Militer, KODAM III/Siliwangi. Demikian pula Batalyon Infantri Raider 301 Prabu Kian Santang. Tentunya kedua sosok legendaris ini adalah sosok historis. Mari kita telusuri.
Baca Juga:Bukan Palestina, Usulan Jurnalis Berdarah Yahudi Didirikan di UgandaKeluarga Sultan Amir Sena Islah Membangun Cirebon
Telusur terminologi Kian atau keyan perlu dilakukan. Kata kian berasal dari raka i~rakean~rakryan. Istilah ini adalah sebuah gelar yang bisa kita telusuri dari Naskah Carita Parahyangan dan prasasti-prasasti Kerajaan Medang atau Mataram hindu. Pendiri Kerajaan Mataram Hindu adalah Raka i Mataram Sang Ratu Sanjaya (raka dari Mataram yang bernama Ratu Sanjaya). Sanjaya juga menjadi raja ke-2 Kerajaan Sunda-Galuh, sekaligus raja Kalingga san Mataram Hindu. Pada masa Mataram Kuno di Jawa Tengah, terdapat sebuah gelar dalam prasasti-prasasti dari abad ke-8 hingga abad ke-10, diantaranya yaitu raka atau rakai (kadang ditulis rake). Sesudah masa itu, gelar rakai cenderung tidak lagi dipakai, diganti dengan rakryan, yang tingkatnya sepadan dengan gelar rakai. Ada pun gelar rakryan (kadang ditulis rake[y]an) kemungkinan besar merupakan gabungan dari kata raka dan aryan dan merajuk kepada gelar jabatan administrasi kerajaan.
Penggunaan gelar rakryan mulai rajin dipergunakan pada masa Pu Sindok abad ke-10 di Jawa Timur dan berlangsung hingga zaman Kerajaan Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Raka adalah seorang pemimpin atau penguasa yang telah berhasil menguasai sejumlah wanua (komunitas desa) yang disebut watak. Sederhanya Raka adalah Kepala Daerah Watak.
