Menelisik Parahyangan, Tempat Pemimpin Agung yang Bersinar

1 ULmKsOx3OAtd NX2orNrUw
Lukisan Junghuhn tentang Telaga Patengang
0 Komentar

Kelak konsep ini dilanjutkan oleh Da-Hyang Su-Umbi (Galuh Kandiawati) dan Mulawarman atau Si Tumang (Resi Taruma Hyang), mereka mendirikan Taruma Nagara Desa. Pernikahan antara Da-Hyang Su-Umbi dengan Taruma Hyang melahirkan Panca Putra Dewa (Pandawa Putra) yang membawa misi Ajaran Dwipa (Dwipayana) maka terbentuklah: Jawa-dwipa, Swarna-dwipa, Simhala-dwipa, Waruna-dwipa, dan seterusnya hingga ke India.

Bentukan geologis serta geografis tersebut juga menginspirasi masyarakat Jawa Barat untuk menamai daerahnya dengan awalan kata “Ci” yang merupakan singkatan dari “Cai” yang berarti air. Di Jawa Barat tak kurang dari 51 Daerah Aliran Sungai (DAS). Didaerah ini juga banyak terdapat Danau/Situ.

Banyaknya Sungai, Danau serta Gunung serta tanah yang subur dengan hawa yang dingin dan sejuk , menjadikan Jawa Barat cocok sebagai tempat Tapa-Brata salah satu alasan lain mengapa Jawa Barat juga disebut sebagai tanah Parahyangan. Kata Hyang yang berarti Tuhan, Dewa atau leluhur yang disucikan cocok dengan tanah Sunda yang indah sebagai tempat bersemayamnya para Dewa/leluhur tersebut. Mandala, Ashram, Kabuyutan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat-tempat para Hyang tersebut.

Baca Juga:Benarkah Jenglot Terkait dengan Ilmu Hitam? Simak Penjelasan Gus MuwafiqAdakah Hubungan Jenglot dengan Moksa di Tanah Jawa Tempo Dulu?

Dalam konteks Jawa Barat dan Masyarakat Sunda kata Kabuyutan lebih sering digunakan untuk menyebut tempat-tempat seperti itu, seperti tercantum dalam naskah-naskah kuno. Ada dua jenis Kabuyutan yang dikenal oleh masyarakat Sunda yaitu : Lemah Diwisasana dan Lemah Parahyangan . Lemah Diwasasana adalah Mandala sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa, sedangkan Lemah Parahyangan adalah Mandala sebagai tempat pemujaan Hyang (Danasasmita & Anis Djatisunda, 1986:3).

Lemah Diwisasana, mungkin merupakan Mandala bagi para penganut Budha atau Hindu, karena Dewa adalah zat tertinggi (Tuhan) menurut konsep agama Hindu, yaitu Dewa-Dewa : Brahma, Wisnu dan Siwa yang menyatu menjadi Trimurti. Lemah Parahyangan adalah Mandala bagi para penganut yang lebih memuja kepada para leluhur atau nenek moyang yang telah berlaku sejak jaman Prasejarah (Kebudayaan Megalithikum).

Lemah Parahyangan disebut juga sebagai Kabuyutan Jatisunda. Dari prasasti dan naskah-naskah Sunda kuno dapat diketahui beberapa Mandala di tanah Sunda, antara lain Sunda Sembawa, Jayagiri (dari prasasti Kabantenan), Galunggung (naskah kropak 632), Gunung Kumbang (naskah kropak 408), Kanekes, Denuh (Kropak, Carita Parahyangan).

0 Komentar