Menelisik Parahyangan, Tempat Pemimpin Agung yang Bersinar

1 ULmKsOx3OAtd NX2orNrUw
Lukisan Junghuhn tentang Telaga Patengang
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Jajaran pegunungan yang masih aktif, patahan-patahan hasil letusan gunung berapi ribuan bahkan jutaan tahun yang lampau membentuk wajah geologis Jawa Barat menjadi eksotis. Lingkungan dengan jajaran pegunungan aktif, aliran sungai besar dan kecil serta jurang-jurang curam tersebut sedikit banyak membentuk religiositas penduduk yang hidup didalamnya.

Parahyangan kemudian menjadi salah satu nama sebutan untuk kawasan Jawa Barat saat ini. Karena jajaran pegunungan yang masih aktif di sekitara kawasan Jawa Barat tersebut diyakini sebagai tempat bersemayamnya para leluhur. Kata “Parahyangan” yang kemudian lebih sering disebut dengan “Priangan” pada prinsipnya menunjukan sebuah tempat, sebab jika kita menelusurinya melalui bahasa “Sang Saka Kerta” yang ditulis dalam aksara Palawa kata Parahyangan itu akan mengandung arti sebagai berikut. “Pa” artinya adalah tempat, sedangkan “Ra” adalah sinar dan kata “Hyang” mengandung arti “pemimpin yang agung”. Maka bila diartikan secara bebas arti kata Pa-Ra-Hyang itu adalah “Tempat-Sinar-Pemimpin yang Agung” atau “Tempat Pemimpin Agung yang Bersinar”.

Kata “para” dalam hal ini tidak berarti jamak, seperti pada kata “para hadirin, para pemirsa, para sahabat, dan seterunya.” Kata “para” secara umum digunakan juga untuk menunjukan tempat yang tinggi atau langit (para=langit, lihat dalam kata para-para atau langit-langit yang letaknya di bawah wuwungan yang artinya suwung atau kosong). Yang menyebabkan kata “Parahyang” kehilangan makna adalah ketika ia dituliskan dalam susunan dan bentuk kata “Para-hiang-an” lalu disingkat jadi “priangan”.

Baca Juga:Benarkah Jenglot Terkait dengan Ilmu Hitam? Simak Penjelasan Gus MuwafiqAdakah Hubungan Jenglot dengan Moksa di Tanah Jawa Tempo Dulu?

Pa-Ra-Hyang yang dimaksudkan pada dasarnya bukan ditujukan bagi kota Bandung secara menyeluruh, namun khusus bagi wilayah tempat lahirnya Salaka Domas dan Salaka Nagara, tepatnya disekitar Gn. Agung (Gunung Tangkuban Pa-Ra-Hu), maka dari itu kita mengenal daerah “Lamba Hyang atau Lembah Hyang atau LEMBANG”.

Tempat tersebut diyakini merupakan cikal bakal lahirnya konsep berkebangsaan dan ketatanegaraan diseluruh dunia yang di awali oleh Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manik Maya dengan misi “Mula Sarwa Stiwa Dani Kaya” (letaknya di sekitar Gunung Batu daerah Buka Nagara/Mula Nagara, Lembang). Kemudian dilanjutkan oleh Maharaja Resi Prabhu Sindhu-La-Hyang (Sang Hyang Tamblegmeneng) yang membangun padepokan Jambudwipa.

0 Komentar