Menelisik Parahyangan, Tempat Pemimpin Agung yang Bersinar

1 ULmKsOx3OAtd NX2orNrUw
Lukisan Junghuhn tentang Telaga Patengang
0 Komentar

Sesuai dengan isi naskah kropak 408 (Sewadharma), agaknya kabuyutan Gunung Kumbang merupakan Lemah Diwasasana. Semenara itu, sesuai dengan isi kepercayaan orang Kanekes (Badui), mereka menamai kepercayaannya Sunda Wiwitan dan nama lain lokasi pemukiman mereka serta nama sebuah sungai di daerah itu, yakni Lebak Parahyang dan Ciparahyang, maka Kanekes kiranya sebuah Mandala yang tergolong Lemah Parahyangan.

Warga masyarakat Mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa di Mandala, sedangkan warga nagara berugas melakukan tapa di nagara. Tapa disini bukanlah dalam pengertian umum yang berlaku sekarang, yaitu hidupp mengaasingkan diri di hutan atau guna melakukan hubungan dekat denga Zat Maha Tinggi (Dewa/Karuhun/Tuhan) dalam rangka mencari kekuatan lahir dan batin untuk mencapai suatu tujuan. Namun masyarakat Sunda lama memiliki konsep tersendiri mengenai tapa. Naskah kropak 632 menjelaskan mengenai pengertian tapa sebagai berikut:

“Carekna patikrama na urang lanang-wadwan. Iya twah iya tapa. Iya twah na urang.Gwareng twah gwareng tapa, Maja twah maja tapa, Ram pes twah, ram pes tapa; apana urang Ku twahna mana beu(ng)har, ku twahna mana waya tapa.”

Baca Juga:Benarkah Jenglot Terkait dengan Ilmu Hitam? Simak Penjelasan Gus MuwafiqAdakah Hubungan Jenglot dengan Moksa di Tanah Jawa Tempo Dulu?

Artinya :“Menurut ajaran dalam Patikrama (segala adat), bagi kita, laki-laki dan wanita,Amal itu sama dengan tapa. Itulah makna amal pada kita. Buruk amal, buruklah tapa, sedang amal, sedanglah tapa. Sempurna amal, sempurnalah tapa. Kan kita ini karena amal kita dapat menjadi kaya, karena amal pula kita berhasil dalam tapa” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981 : 31,38).

Dengan kata lain, dalam pengertian Sunda lama, pengertian tapa sama dengan berkerja. Dalam hal ini berkerja menurut tugasnya masing-masing. Bagi orang kanekes sebagai penduduk Mandala, telah melakukan tapa, apabla mereka telah berkerja sesuai denga tugas penduduk Mandala. Bagi orang Sunda warga masyarakat nagara (diluar masyarakat Mandala), telah melakukan tapa, apabila telah berkerja sesuai dengan tugas sebagai penduduk Nagara.

Mandala atau Kabuyutan-kabuyutan di tanah Sunda atau daerah Jawa Barat diduga didirikan pada masa pemerintahan raja Sunda bernama Rakeyan Darmasiksa yang memerintah tahun 1175 sampai 1297 Masehi. Karena raja ini diberitakan telah membangun beberapa Kabuyutan, termasuk kabuyuan Parahyangan, bagi para wiku yang mengajarkan dan mempraktekan ajaran agama Jatisunda dengan berpegang teguh pada ajaran Dharma dan menjalankan ajaran Sanghiyang Siksa (Atja & Saleh Danasasmita, 1981a : 15, 34-35; 1981b: 49-52).

0 Komentar