Teka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?

muhammad17 Prasasti Huludayeuh
Prasasti Huludayeuh di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon./Foto: Istimewa
0 Komentar

…………..tra….na….………..sri mahharaja ratuhaji di pkwan sya sang ratudewata pun/ masa sya……..……..ngretakeun bumi ngaha…………..lipukkeun/ bumi ngaha……..ngarah sang di susuk/ lampu……….i ngareubhkeun/ ikang….ka…susi padakah. Ngalasan…na udugbasu. mipataka…….is/nikang kala pun….

Terjemahan dari teks tersebut adalah:“Prasasti ini dibuat atas perintah Sri Maharaja Ratu Haji di Pakuan Sya Sang Ratu Dewata sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan yang telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat.

Fragmen prasasti tersebut secara garis besar mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang bertalian dengan usaha-usaha memakmurkan negrinya.

Baca Juga:‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu SiliwangiKonon Diapit 3 Sungai Besar, Dimanakah Lokasi Ibu Kota Pajajaran?

Prasasti ini diduga sebagai tanda selesainya pengerjaan sebuah proyek besar. Tidak dijelaskan proyek apa yang dimaksud, mengingat hanya sebegitu sajalah tulisan yang mampu dibaca oleh para peneliti, mengingat tulisan lainnya mengalami kerusakan dimakan usia sehingga tidak dapat terbaca.

Meskipun demikian setidak-tidaknya prasati itu menggambarkan bahwa di wilayah Kab Cirebon yang kini dikenal dengan desa Bobos tersebut pernah tersentuh pembangunan besar di Jaman Kerajaan Sunda, sehingga sang Raja Sunda sendiri kemudian memerintahkan pembuatan Prasasti untuk tanda kenang-kenangan atau peringatan. Perlu dipahami bhawa tidak mungkin seorang Raja memerintahkan pembuatan Prasasti kalau proyek pemerintah yang dijalankan itu hanya proyek kecil-kecilan saja.

Kini Prasasti itu masih tetap ditempat asalnya, mengingat penduduk setempat melarang pihak pemerintah untuk membawa prasasti itu ke Musium. Hal tersebut dikarenakan amanat dari pendahulu-pendahulu desa itu agar prasasti tersebut jangan dipindah tempat dan terus dijaga ditempat asalnya.

Analisis Asal Mula “Huludayeuh”

Secara Harfiah-denotatif, “Hulu” diartikan sebagai kepala. Sedangkan “dayeuh” berarti kota atau wilayah pemukiman. Konon, tiap wilayah yang dibentuk atau ada sejak abad 8 hingga akhir abad 16 M biasanya memiliki tempat yang disebut Hulu Dayeuh. Mungkin jika dianalogikan zaman sekarang ini sebagai pusat kota.

Caita Prahyangan menggambarkan Ratu Dewata sebagai “raja yang lemah”, sehingga mengabaikan pemerintahan dan lebih memilih mengabdikan diri pada Tuhan. Sementara Prasasti Huludayeuh menggambarkan pembangunan untuk kepentingan rakyat.

0 Komentar