Di wilayah Wahanten Pasisir Syarif Hidayatullah bertemu dengan Nyai Kawung anten (putri dari Sang Surosowan), keduanya kemudian menikah dan dikaruniai dua orang anak yaitu Ratu Winaon (lahir pada 1477 m) dan Pangeran Maulana Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin : nama pemberian dari kakeknya Sang Surosowan) yang lahir pada 1478 M. Sang Surosowan walaupun tidak memeluk agama Islam namun sangat toleran kepada para pemeluk Islam yang datang ke wilayahnya.
Logikanya pembangunan takkan bisa berjalan tanpa situasi yang aman. Apabila dalam suasana ketegangan perang tidak mungkin terlaksana. Efek pembangunan juga bermanfaat bagi masyarakat Cirebon.
Catatan serangan kilat dari Kerajaan Banten ke Pajajaran di masa pemerintahan Ratu Dewata dipertanyakan. Karena saat bersamaan pemerintahan Maulana Hasanuddin tidak melakukan tindakan keras dalam menyebarkan Islam. Sementara kesultanan Banten dimulai dari Maulana Hasanuddin. Raja Pertama Kesultanan Islam Banten adalah Maulana Hasanuddin Banten bin Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) yang beribukan Nya Rara Santang binti Prabu Siliwangi + Nyai Subanglarang. Sedangkan Maulana Hasanudin beribukan Nyai Kawunganten binti Surasowan bin Prabu Siliwangi + Nyai Kentring Manik Mayangsunda binti Haliwungan (Prabu Susuk Tunggal) + Baramuci Larang puteri dari Surendrabuanaloka/ raja daerah yang pernah bertahta di Pakuan.
Baca Juga:‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu SiliwangiKonon Diapit 3 Sungai Besar, Dimanakah Lokasi Ibu Kota Pajajaran?
Tampaknya tidak sesuai kronologi jika pembuat prasasti Huludayeuh adalah Prabu Ratu Dewata (Cucu Sri Baduga Maharaja. Prasasti paling baru yang ditemukan di Kabupaten Ciamis adalah prasasti Jambansari. Secara paleografi, prasasti ini ditulis dalam aksara tipe “Jawa Kuna”. Jika melihat bentuk aksaranya yang ditulis tegak mengingatkan pada prasasti Huludayeuh yang dikeluarkan oleh Raja Sri Baduga Maharaja pada abad ke-16 (Nastiti & Jafar, 2014).
Prasasti Jambansari terdapat di dalam gerumbulan pohon waregu (rhapis excelsa), yang berada di kompleks Makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat, bupati Galuh ke-3 (1839–1886). Kompleks makam tersebut secara administratif terletak di Kampung Rancapetir, Kelurahan Ciamis, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Ukurannya adalah tinggi 36 cm, lebar 50 cm, dan tebal 36 cm. Aksara sudah ada yang aus sehingga sulit untuk dibaca. Bentuk aksara persegi empat dan tegak.
