Teka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?

muhammad17 Prasasti Huludayeuh
Prasasti Huludayeuh di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon./Foto: Istimewa
0 Komentar

Menurut juru pelihara, Nana Hidayat, prasasti ini sudah terletak di lokasi tersebut sejak ia menjadi juru pelihara pada tahun 2004. Penduduk setempat sudah mengetahui tentang prasasti tersebut dan menyebutnya dengan nama “batu kunci” atau “batu gede”. Pada tahun 2015, tim peneliti Balai Arkeologi Bandung menelusuri asal prasasti tersebut.

Menurut informasi dari Dadang Muhammad Rohlik, guru SMP Negeri 1, Ciamis, prasasti tersebut berasal dari Bojong Salawe yang dipindahkan ke Jambansari oleh Indra Sugih pada tahun 2014 tanpa sepengetahuan juru kunci. Beberapa bulan kemudian ia menyampaikan kepada salah seorang juru pelihara bernama Yus, bahwa ia menitipkan barang yang disimpan di bawah pohon waregu, tanpa menyebutkan jenis bendanya. Indra Sugih menemukan prasasti itu pada tahun 2013 di Ci Tanduy, Bojong Salawe dekat Situs Galuh Salawe (Saptono, 2015: 25).

Sang Ratu Dewata rupanya menyebut nama Prabu Sri Baduga Maharaja, yaitu Ratu Jaya Dewata atau Sang Pamanah Rasa. Mungkin prasasti ini dibuat ketika Prabu Siliwangi berkuasa di Kerajaan Sindangkasih setelah menikahi Nhay Ambet Kasih dan ia menjadi Raja daerah.

Baca Juga:‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu SiliwangiKonon Diapit 3 Sungai Besar, Dimanakah Lokasi Ibu Kota Pajajaran?

Sebagaimana dituliskan dalam Prasasti Batu Tulis Bogor bahwa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi III) banyak melakukan pembangunan. Mungkin juga kebiasaan dalam membangun sudah sejak ia menjadi raja daerah.

 Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana, di wastu diya wingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu dewata pun ya nu nyusuk na pakwan diva anak rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta dimguna tiga i(n) cu rahyang niskala-niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang ya siya ni nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida, nyiyan sa(ng)h yang talaga rena mahawijaya, ya siya, o o i saka, panca pandawa e(m) ban bumi

Terjemahan: Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi”

0 Komentar