Teka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?

muhammad17 Prasasti Huludayeuh
Prasasti Huludayeuh di Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon./Foto: Istimewa
0 Komentar

Sikap Ratu Dewata yang alim dan rajin bertapa, menurut norma kehidupan zaman itu tidak tepat karena raja harus “memerintah dengan baik”. Tapa-brata seperti yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah turun tahta dan menempuh kehidupan manurajasuniya seperti yang telah dilakukan oleh Wastu Kancana. Karena itulah Ratu Dewata dicela oleh penulis Carita Parahiyangan dengan sindiran (kepada para pembaca)

 “Nya iyatna-yatna sang kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan”

(Maka berhati-hatilan yang kemudian, janganlah engkau berpura-pura rajin puasa).

Rupa-rupanya penulis kisah kuno itu melihat bahwa kealiman Ratu Dewata itu disebabkan karena ia tidak berani menghadapi kenyataan. Penulis kemudian berkomentar pendek “Samangkana ta precinta” (begitulah zaman susah).

Mengapa seperti ada perbedaan antara isi Naskah Carita Parahyangan dan Prasasti Huludayeuh? Karena kita salah mengidentifikasi tokoh.

Baca Juga:‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu SiliwangiKonon Diapit 3 Sungai Besar, Dimanakah Lokasi Ibu Kota Pajajaran?

Kembali ke Prasasti Huludayeuh. Sumber lain mengatakan bahwa yang dimaksud dalam prasasti Huludayeuh sebagai Sang Ratu Dewata adalah berasal dari abad IX – X Masehi. Menurut Disparbud, Prasasti Huludayeuh ini diperkirakan sejaman dengan Kayuwangi-Balitung. Pemerintahan  Rakai Kayuwangi. (Dyah Lokapala) – Rakai Watumalang. – Dyah Belitung adalah pemerintahan Mataram kuno (Medang Kamulan). Lho…. mengapa tidak membandingkan dengan rujukan dari Pajajajaran?

Bila kita lihat raja-raja Pajajaran (Sunda-Galuh) yang berkuasa dari abad IX hingga abad X adalah sebagai berikut:

  • Pucukbumi Darmeswara (795-819 M).
  • Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M).
  • Prabu Darmaraksa (891 – 895 M).
  • Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913 M).
  • Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M).
  • Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa  (916-942 M).
  • Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M).
  • Limbur Kancana ,(954-964 M).
  • Prabu Munding Ganawirya (964-973 M).
  • Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989 M).
  • Prabu Brajawisesa (989-1012 M).

Tidak terdapat gelar raja Sang Ratu Dewata, kecuali Cucu Sri Baduga Maharaja yaitu Ratu Dewata yang naik tahta tahun  1535 hingga 1543 dan bertahta di Pakuan. Artinya raja ini berkuasa pada abad XVI (ke-16) Masehi.

Dibuat zaman Prabu Raga Dewata (Siliwangi V)?

0 Komentar