Jika merujuk isi teks menyebutkan pembuatnya adalah Sang Ratu Dewata, bisa jadi merujuk pada putera Prabu Surawisesa dan Ratu Dewata merupakan cucu Sri Baduga Mahara atau (Prabu Siliwangi III). Jika demikian Prabu Surawisesa (ayah Ratu Dewata) adalah Siliwangi IV dan Prbu Ratu Dewata dapat disebut sebagai Siliwangi V.
Dalam Naskah Carita Parahyangan, Ratu Dewata diceriatakan sebagai sosok yang sangat alim dan taat kepada agama. Ia melakukan upacara sunatan (adat khitan pra-Islam) dan melakukan tapa pwah-susu, hanya makan buah-buahan dan minum susu. Menurut istilah sekarang vegetarian. Pada saat pemerintahannnya ini terjadi serangan mendadak ke Ibukota Pakuan dan musuh “tambuh sangkane” (tidak dikenal asal-usulnya).
Dalam cerita yang beredar selama ini adanya serangan kilat ke Pakuan Pajajaran di masa pemerintahan Ratu Dewata. Sedangkan ia mampu menyelesaikan sebuah proyek di Huludayeuh yang sangat dekat dengan Cirebon. Lokasi Dusun Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Dukupuntang (Pemekaran dari Kecamatan Sumber), Koordinat : 06º 47′ 046″ S, 108º24′ 205″ E. Hanya terpaut jarak Sekitar 15 km sebelah barat daya Kota Cirebon dan mungkin masuk wilayah Cirebon Larang (Gabungan atau peleburan kerajaan Wanagiri, Sing Apura dan Japura). Sedangkan Cirebon dipimpin Sunan Gunung Jati yang sama-sama cucu Prabu Siliwangi (beda nenek). Jadi siapakah yang menyerang Pajajaran?
Baca Juga:‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu SiliwangiKonon Diapit 3 Sungai Besar, Dimanakah Lokasi Ibu Kota Pajajaran?
Kisah lain yang dinisbatkan kepada Sultan Banten bahwa penyerangan ke Pajajaran atas perintah Maulana Hasanuddin (Cicit Prabu Siliwangi putera Sunan Gunung Jati) yang memerintah tahun 1552 – 1570 M.
Kita kilas balik dahulu kerajaan/kesultanan Banten. Pada masa awal kedatangannya ke Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bersama dengan Pangeran Walangsungsang sempat melakukan syiar Islam di wilayah Banten yang pada masa itu disebut sebagai Wahanten, Syarif Hidayatullah dalam syiarnya menjelaskan bahwa arti jihad (perang) tidak hanya dimaksudkan perang melawan musuh-musuh saja namun juga perang melawan hawa nafsu, penjelasan inilah yang kemudian menarik hati masyarakat Wahanten dan pucuk umum (penguasa) Wahanten Pasisir. Pada masa itu di wilayah Wahanten terdapat dua penguasa yaitu Sang Surosowan (anak dari prabu Jaya Dewata atau Silih Wangi) yang menjadi pucuk umum (penguasa) untuk wilayah Wahanten Pasisir dan Arya Suranggana yang menjadi pucuk umum untuk wilayah Wahanten Girang.
