Jejak Sega Jamblang, Ada Legenda Ki Antara-Tan Piau Lin dan Ki Buyut Cigoler

4 17
Sajiannya, nasi dibungkus daun jati setiap porsinya
0 Komentar

Di zaman kolonial, terutama pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Daendels yang memerintah sejak tahun 1808 hingga 1811 dan membangun Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Pembangunan jalan itu sampai ke wilayah Kabupaten Cirebon di Desa Kesugengan yang berdekatan dengan Desa Jamblang.

Sejarah mencatat nama Daendels sebagai Gubernur Jendral Belanda di Indonesia yang dikenal bersifat kejam. Rakyat dipaksa bekerja membangun Jalan Pos tanpa upah dan konsumsi. Masyarakat kemudian bergotong-royong menyediakan makanan untuk pekerja rodi pembuat Jalan Pos. Kolonial Belanda tidak hanya membangun jalan, tapi juga pabrik-pabrik gula di wilayah ini, seperti pabrik gula Gempol dan Palimanan , serta sebuah pabrik spirtus di Palimanan.

Sega Jamblang

Secara etimologis, sega berarti nasi dalam bahasa Jawa Cirebon. Sedangkan jamblang menunjuk nama suatu tempat di Kabupaten Cirebon. Bermula dari pemukiman kecil, kemudian berkembang menjadi desa dan kini akhirnya menjadi sebuah kecamatan.

Baca Juga:Cadas Pangeran Karya Herman Willem Daendels Kini Berusia 214 TahunSebelum Makan Tempe Mendoan, Simak Dulu Sejarahnya

Bagaimana sega jamblang menjadi kuliner yang begitu diminati masyarakat kecil di Cirebon? Berawal dari seseorang bernama Ki Antara, dikenal juga sebagai Haji Abdul Latif yang beristrikan seorang keturunan Tionghoa bernama Tan Piau LinAkibat kesulitan mengucapkan nama istrinya, Ki Antara menyebut Tan Piau Lin atau Piau Lin menjadi Pulung. Sejak itu, istri Ki Antara dikenal dengan julukan Nyonya Pulung.

Berawal dari kerja rodi atau kerja paksa pembuatan Jalan Pos Daendels dari Anyer hinggs Panarukan yang melewati Kabupaten Cirebon, bantuan Nyonya Pulung berupa nasi dan lauk pauk yang sederhana, yaitu ikan asin, tempe, dan tahu untuk para pekerja rodi pembuat Jalan Pos lambat laun semakin dikenal. Ki Antara yang bersedekah kepada pekerja rodi dalam bentuk nasi bungkus dengan jumlah yang banyak itu ternyata tidak tahan lama, nasi menjadi cepat basi. Sementara pekerja rodi, semakin banyak yarg didatangkan dari desa-desa sekitar seperti Bobos, Sindangjawa dan Cimara. Maka dicarilah upaya agar nasi tidak cepat basi.

Daun Jati

Sekitar tahun 1847, Belanda membangun tiga pabrik sekaligus. Dua pabrik di Plumbon dan Gempol, satu lagi pabrik spirtus di Palimanan. Penderitaan rakyat semakin meningkat dan kelaparan terjadi dimana-mana. Para pekerja kasar pembangunan pabrik gula juga mendapat pasokan makanan dari Nyonya Pulung yang sudah menemukan pengganti bungkus nasi daun pisang menjadi daun jati.

0 Komentar