Jejak Sega Jamblang, Ada Legenda Ki Antara-Tan Piau Lin dan Ki Buyut Cigoler

4 17
Sajiannya, nasi dibungkus daun jati setiap porsinya
0 Komentar

Sega Jamblang. Kuliner khas masyarakat Cirebon ini sudah satu abad lebih hidup di tengah masyarakat Cirebon. Dari waktu ke waktu, sega jamblang menjadi pilihan masyarakat kecil atau pinggiran. Boleh dibilang kuliner kaum marjinal. Menelusuri keberadaan Sega Jamblang yang kini semakin masyhur lantaran memiliki keunikan dan sejarah panjang sejak zaman kolonialisme.

Sega jamblang tidak terlepas dari beberapa peristiwa yang melatarbelakanginya. Lantas, mengapa sega jamblang menjadi ikon Kota Cirebon? Siapa penggagas sega jamblang? Kapan kuliner legendaris ini mulai dikenal masyarakat Cirebon?

Sekilas tentang Jamblang

Secara geografis, Desa Jamblang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Berjarak dengan pusat administrasi pemerintahan Kabupaten Cirebon di Sumber sekitar 16,5 kilometer. Sedangkan jarak dari Kota Cirebon berkisar 17,5 kilometer.

Baca Juga:Cadas Pangeran Karya Herman Willem Daendels Kini Berusia 214 TahunSebelum Makan Tempe Mendoan, Simak Dulu Sejarahnya

Jauh sebelum Indonesia, istilah jamblang sudah dikenal. Bermula dari para pedagang Cina yang menggunakan jasa transportasi air untuk mencapai pedalaman. Sungai, pada awalnya tidak memiliki nama. Muara sungai yang ada di Desa Mertasinga Cirebon Utara, dikenal dengan nama Muara Bondet. Pada masanya, sungai itu sangat dalam. Lalu lintas air ini begitu ramai. Kapal-kapal pedagang Cina banyak yang mengarungi sungai ini dan menjual dagangannya dibawah pohon jamblang atau duwet yang bernama latin Syzyium Cumini, sejenis buah jambu warna ungu kemerahan dan agak asam manis rasanya.

Nama buah jamblang (duwet) inilah yang kemudian menjadi nama Sungai Jamblang. Pedagang Cina banyak yang menetap di tempat ini. Makin lama makin ramai. Nama jamblang semakin dikenal oleh para pedagang baik Cina, Arab maupun Jawa.

Jamblang lambat laun menjadi ramai, banyak pendatang terutama dari etnis Cina yang bermukim sekitar pohon jamblang. Kemudian muncul pemukiman baru yang kelak bernama Pecinan. Kisah tak tertulis di masyarakat sekitar tempat itu menjadi Pecinan tertua di Jawa dengan adanya Kelenteng  sekarang bernama Vihara Dharma Rakhita di Jamblang yang dibangun pada tahun 1400. Suatu bukti bahwa etnis Tionghoa berada di sana dan membangun tempat ibadahnya. Pembauran pun terjadi secara alamiah, lambat laut pemukiman itu pun menjadi ramai dengan sebutan Desa Jamblang hingga saat ini.

0 Komentar