Jejak Sega Jamblang, Ada Legenda Ki Antara-Tan Piau Lin dan Ki Buyut Cigoler

4 17
Sajiannya, nasi dibungkus daun jati setiap porsinya
0 Komentar

Ikon Cirebon: Nasi Jamblang

Panjangnya sejarah perjalanan sega jamblang, agaknya tidak berlebihan jika kuliner ini menjadi ikon wisata kuliner Cirebon. Bahkan tidak lengkap berwisata ke Cirebon jika belum mencicipi sega jamblang yang murah meriah dan memiliki rasa yang lezat.

Mencari sega jamblang tidaklah sulit. Sepanjang Jalan Tentara Pelajar berjajar pedagang nasi jamblang sampai larut malam. Penjual sega jamblang hampir dapat ditemui di setiap sudut Kota Cirebon. Di kompleks pelabuhan, di pusat Kota Cirebon, bahkan hingga merambah seputar hotel berbintang.

Kuliner khas sega jamblang terdiri dari paru goreng, sambal goreng, sate kentang, goreng, tempe, ikan asin panjelan, tahu bumbu kecap, dan perkedel kentang atau dendeng daging. Menu ini selalu ada dan menjadi ciri khas Cirebon. Dulu, pedagang sega jamblang berkeliling memikul keranjang besar (bahasa lokal Cirebon disebut dengan oblok).

Baca Juga:Cadas Pangeran Karya Herman Willem Daendels Kini Berusia 214 TahunSebelum Makan Tempe Mendoan, Simak Dulu Sejarahnya

Kini, pedagang sega jamblang lebih banyak mangkal atau menetap, baik di ruko ataupun kaki lima. Pedagang sega jamblang cukup variatif, dari yang berskala besar hingga kaki lima. Seorang bandar (juragan sega jamblang) mampu mempekerjakan hingga 50 orang bahkan lebih, mulai dari juru masak hingga pedagang yang menjual sega jamblang dengan cara berkeliling atau mangkal.

Dari waktu ke waktu, sega jamblang terus bertahan dan berkembang. Kini, hotel berbintang di Cirebon juga menyediakan sega jamblang, walau sudah tidak otentik lagi lantaran penyajiannya yang tidak menggunakan daun jati.

Sega jamblang memang murah meriah, dua bungkus nasi pulen yang dibungkus daun jati lengkap dengan sambel goreng khas Cirebon, ditambah lauk pauk tanpa daging, hanya dibandrol dua puluh ribu rupiah dan dijamin perut terisi kenyang. Karena harga lauk pauknya yang relatif murah, sedangkan harga untuk lauk pauk seperti semur rempela, sate telur puyuh, paru goreng, atau dengdeng daging terdapat perbedaan, namun masih dapat dijangkau oleh masyarakat.

Sega jamblang yang digagas sebagai nasi sedekah untuk pekerja rodi, hingga kini masih tetap bertahan. Kendati kondisi ekonomi negeri ini belum stabil, terlebih di masa pandemi seperti ini, sega jamblang masih tetap eksis. Bahkan para juragan sega jamblang mampu menciptakan lapangan pekerjaaan bagi masyarakat sekitarnya. Sega jamblang kuliner khas Cirebon dari masa kolonial ini mampu bertahan dan begitu dengan masyarakat.

0 Komentar