Mengapa daun jati menjadi pilihannya? Terdapat banyak versi mengenai daun jati pembungkus nasi untuk pekerja rodi. Daun jati memiliki tekstur dan pori-pori besar. Nasi yang dibungkus daun jati cenderung bertahan lebih lama (tidak basi), selain itu juga mampu membangkitkan selera makan.
Keistimewaan daun jati beredar di masyarakat. Versi pertama, bahwa Nyonya Pulung mengganti daun pisang ke daun jati lantaran nasi yang pulen tidak cepat basi. Versi kedua, pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa memerlukan kayu jati. Menurut kisah masyarakat setempat, terdapat pohon jati besar di kawasan Jatiwangi yang tak dapat ditumbangkan dengan alat apapun. Hanya seorang yang bernama Njoo Kiet Tjit atau yang kemudian dikenal sebagai Ki Buyut Cigoler yang dapat melakukannya. Daun jati dari pohon keramat itulah yang kemudian digunakan untuk membungkus nasi agar tidak lekas basi.
Konsumsi Kaum Pinggiran
Sega jamblang yang semula merupakan sedekah dari Nyonya Pulung dan suaminya, Haji Abdul Latif atau Ki Antara, diberikan kepada para pekerja rodi yang membangun Jalan Pos Daendels. Karena pekerja rodi tidak mendapat upah, maka Nyonya Pulung membuat nasi dengan lauk pauk yang sederhana dan murah meriah: tahu,tempe, dan ikan asin, ditambah sambal goreng khas Cirebon. Konsumsi pekerja rodi ini kemudian dilanjutkan dengan pemberian sedekah kepada buruh yang membangun pabrik Gula Gempol.
Baca Juga:Cadas Pangeran Karya Herman Willem Daendels Kini Berusia 214 TahunSebelum Makan Tempe Mendoan, Simak Dulu Sejarahnya
Kaum buruh pekerja kasar mengonsumsi nasi yang dibungkus daun jati, bentuk sedekah Haji Abdul Latif dan Nyonya Pulung. Kaum buruh atau pekerja rodi lama kelamaan merasa kasihan kepada Haji Abdul Latif dan Nyonya Pulung yang setiap hari menyediakan ratusan mungkin juga ribuan bungkus nasi jamblang.
Kaum pekerja kemudian memberinya uang, kendati tak seberapa namun ditujukan untuk membeli bahan baku nasi jamblang. Sega jamblang semakin hari semakin diminati. Pangsa pasarnya bukan hanya buruh atau kaum marjinal Kota Cirebon. Kaum pekerja kantoran pun mulai melirik sega jamblang, terutama pekerja kantoran lapisan bawah. Sega jamblang akhirnya menjadi ikon kuliner khas Cirebon karena mampu bertahan sejak masa kolonial hingga Indonesia merdeka.
