Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi Padelingan

Sebuah makam keramat terancam terlintasi proyek Jalan Tol Jogja Bawen
Makam Nyi Pedelingan, di Dusun Lonjong, Ngampin, Ambarawa, Semarang, Rabu (2/11/2022) / Istimewa
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Dalam proyek pembangunan Tol Jogja-Bawen, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang meminta agar memperhatikan kearifan lokal.

Hal ini lantaran beberapa lahan yang akan dijadikan proyek jalan tol Jogja-Bawen diketahui melintasi situs makam tokoh-tokoh, salah satunya situs makam Nyi Padelingan.

Adapun saat ini, makam Nyi Padelingan bersama ratusan makam yang lain harus dipindahkan karena terkena proyek pembangunan jalan tol.

Baca Juga:Kerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNAKerabat Trah Keraton Kasepuhan: Imbauan Penutupan Loket oleh Sultan Sepuh Aloeda II Sangat Berdasar, Wisatawan Boleh Masuk Tapi Digratiskan

Salah satu tim ahli Cagar Budaya Kabupaten Semarang, Tri Subekso mengatakan bahwa belum mengetahui identitas dan asal usul Nyai Pedelingan, namun keberadaan makam itu sangat erat dengan kehidupan masyarakat Lonjong, Desa Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.

“Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat pedesaan di Jawa yang masih menaruh penghormatan kepada leluhur yang dipercaya sebagai cikal bakal desa yang diwujudkan melalui punden atau makam kuno. Nah, Makam Nyi Pedelingan merupakan tempat yang dipercayai sebagai makam tokoh pendiri dusun dan mengikat masyarakat setempat secara kultural,” ujarnya, Rabu, 2 November 2022

Sementara itu, cerita mengenai sosok Nyi Pedelingan menurutnya berkembang secara turun temurun dan memerlukan kajian sejarah.

Dia menduga nama Pedelingan berasal dari kata deling yang artinya bambu. Menurutnya, penamaan Pedelingan itu bisa jadi muncul karena lokasi itu banyak ditumbuhi pohon bambu.

Namun, terlepas dari kebenaran atau asal usul Nyai Pedelingan, ia meminta pemerintah menghormati kepercayaan masyarakat lokal.

“Namun fakta akan adanya ikatan yang kuat dari masyarakat setempat terhadap keberadaan makam tersebut perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua RW 3, Aldila Nur, mengatakan warga sudah berusaha agar pemerintah tidak mengusik makam tersebut. Namun, upaya itu gagal karena makam yang terletak di pemakaman Kendeng menjadi trase utama tol tersebut.

Baca Juga:Gugatan Kraton Kasepuhan ‘Draw’, Kuasa Hukum Sultan Sepuh Aloeda II: PN Kota Cirebon Tidak Mau Terlibat Konflik Internal Kraton Kasepuhan, Dikembalikan Secara Adat Sesuai PepakemPolisi Selidiki Penyebab Kebakaran Kantor Bapelitbang Balai Kota Bandung

“Kita sudah berusaha menolak agar makam itu tidak terdampak pembangunan tol, tapi tetap tidak bisa katanya itu kena di tengah-tengah jadi mau tidak mau,” ucap Aldi.

Rencananya makam Nyi Pedelingan bersama 600 makam warga lainnya akan dipindahkan ke lahan yang dekat dengan lokasi makam utama. Warga juga akan menanam atau memindahkan pohon jati, pohon beringin, dan 5 pohon salam yang ada di makam tersebut.

0 Komentar