CARUBAN NAGARI-Misteri penyebab jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu terungkap. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil innvestigasi pemicu jatuhnya pesawat pada pada 9 Januari 2021 lalu.
KNKT pada Kamis (10/11) menyimpulkan, jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 disebabkan oleh gangguan mekanikal pada sistem throttle yang tidak dipantau dengan benar oleh pilot.
Kepala Sub Komite Investigasi Penerbangan KNKT Nurcahyo juga mengungkap bahwa saat kecelakaan itu terjadi, tidak ada regulasi yang memandatkan maskapai penerbangan memberi pelatihan upset prevention and recovery training (UPRT) kepada pilot.
Baca Juga:Mumi Firaun Dikubur dalam Keadaan Penis Ereksi Sudut 90 DerajatBung Tomo, Bawa Kartu Pers Pekik Semangat Perlawanan Arek-Arek Surabaya
Padahal, UPRT penting untuk memastikan pilot memailiki kapasitas mencegah pesawat terbang dalam kondisi upset, di mana parameter terbang pesawat tidak lagi normal seperti yang terjadi pada Sriwijaya Air PK-CLC.
Salah satu keluarga korban, Slamet Bowo Santoso mengaku “sangat sedih” mendengar hasil investigasi KNKT itu.
Ini menunjukkan manajemen udara kita lumayan kacau. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi produsen pesawat, maskapai, dan regulator,” tutur Bowo.
Pesawat Sriwijaya Air jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021, 11 menit setelah lepas landas dari Jakarta menuju Tangerang.
Sebanyak 62 orang tewas dalam kecelakaan itu, terdiri dari 56 penumpang dan enam kru pesawat.
Hasil investigasi KNKT menemukan ada enam faktor yang berkontribusi pada jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC.
Pertama, KNKT mengatakan ada masalah pada sistem kemudi otomatis
Sebelum pesawat itu jatuh, ada sejumlah laporan soal kerusakan throttle yang ditindaklanjuti dengan memperbaiki dan mengganti komponennya.
“Tapi tahapan perbaikan itu belum mencapai mekanikal,” kata Nurcahyo.
Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA
Dalam penerbangan itu, gangguan pada sistem throttle ini ternyata tidak dipantau dengan baik oleh pilot.
Kemudian faktor kedua, KNKT meyakini bahwa gangguan pada sistem mekanikal itu menyebabkan tuas dorong pengatur tenaga mesin (thrust level) di sisi kanan tidak bergerak mundur sesuai permintaan sistem autopilot.
Sebagai kompensasinya, tuas dorong di sisi kiri pun terus bergerak mundur untuk menghasilkan jumlah tenaga mesin sesuai permintaan sistem autopilot.
Perbedaan tenaga mesin pada sisi kanan dan kiri, yang disebut sebagai asimetri itu, membuat pesawat miring dan berbelok ke kiri.
