CARUBAN NAGARI-Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya pada 3 Oktober 1920. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang.
Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat, suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Sutomo kecil dengan keterbatasan ekonomi keluarganya masih senang belajar. Ada suatu masa ia harus belajar di pinggir jalan memanfaatkan cahaya lampu jalanan. ”Kebetulan di rumahnya ada tiang listrik yang dilengkapi lampu penerangan jalan,” terang Sulistina, sang istri yang mendapatkan kisah masa kecil itu langsung dari suaminya.
Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA
Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, tetapi tidak pernah resmi lulus. Setelah putus sekolah Sutomo mengisi hari-harinya membantu perekonomian keluarga. Menjadi ball boy lapangan tenis orang Belanda sampai jasa antar-jemput cucian tetangga.
Pada 1947, Sutomo alias Bung Tomo mengungkapkan Indonesia terus menekan Belanda meskipun situasi Surabaya pada saat itu kekurangan makanan.info gambar
Sutomo yang masih bau kencur terpesona dengan Sukarno. Bersama kakeknya dari pihak ayah, Notosudarmo, Sutomo diajak ke rapat umum di Surabaya tempat Sukarno berpidato. Pidato-pidato Sukarno menyentuh hatinya yang saat itu masih buta soal politik. ”Saya, kemudian ikut bertepuk tangan, walaupun sebagian ucapan Bung Karno itu tidak saya mengerti,” kenang Bung Tomo dalam buku Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat.
