Menelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan Cirebon

Batu nisan di Kompleks Pemakaman Umum Blok Wuni Desa Dawuan bertuliskan lafadz \"La ilaha illallah muhammadur r
Batu nisan di Kompleks Pemakaman Umum Blok Wuni Desa Dawuan bertuliskan lafadz \"La ilaha illallah muhammadur rasulullah\" yang ditulis dengan cara diukir. Sedangkan, di bagian batu nisan lainnya terdapat sebuah nama.
0 Komentar

Hal tersebut, menjadi sebuah akulturasi yang terus terpatri hingga saat ini dimasyarakat. Begitu pula dengan penempatan makam. Biasanya untuk para Sultan atau petinggi akan dimakamkan ke tempat yang lebih tinggi. Misalnya saja kompleks makam raja-raja Mataram di Bukit Imogiri. Lalu, untuk para sunan akan ditempatkan dekat dengan masjid seperti halnya makam para wali. Pada masjid Demak, Kadilangu dan Sendang Duwur.

Mengutip buku Sejarah Indonesia Madya Abad XVI-XIX karya Kardiyat Wiharyanto, berikut contoh makam sebagai peninggalan sejarah di masa Islam yang ada di Nusantara:

  • Makam Sultan Malik Al-Saleh yang terdapat di Aceh Timur dengan batu nisan di Gujarat (India)
  • Makam Fatimah binti Maimun di Leran, Jawa Timur
  • Makam Para Wali yang ada di pulau Jawa, misalnya saja makam Sunan Drajat di Sendang Duwur (Tuban), makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, makam Sunan Malik Ibrahim di Gresik
  • Makam Panembahan Senopati di Kotagede Yogyakarta
  • Makam Sultan Agung Hanyakrakusuma, di Imogiri, Yogyakarta

Salah satu yang menarik perhatian, batu nisan di Kompleks Pemakaman Umum Blok Wuni Desa Dawuan bertuliskan lafadz “La ilaha illallah muhammadur rasulullah” yang ditulis dengan cara diukir di dalam motif purnama sidhi kemungkinan besar merujuk pada nisan dari era Kesultanan Mataram Islam, menghadap ke kaki jenazah. Sedangkan, di bagian batu nisan lainnya terdapat sebuah nama.

Baca Juga:Perjalanan Kabupaten Cirebon Timur dari Prabu Amuk Marugul hingga Kawasan Cultuurstelsel 1830Tradisi Ritual Tahunan Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Cirebon

Bila kuburan dianggap sepele, tidak mungkin para cendekiawan Jawa masa lampau menelurkan sinonim kuburan lebih dari lima, yakni kramatan, makaman, hastana, pasarean, dan jaratan. Sederet sinonim ini tertuang pada koran Darmo Kondo yang terbit di permulaan abad ke-20, yang tersimpan di Perpustakaan Nasional lama lantai 8.

Babad Tanah Jawa, juga melukiskan kesakralan makam sebagai pusaka keraton: “Betapa sedihnya hati saya bahwa semua pusaka telah diambil oleh putera saya raja (Amangkurat Mas). Tetapi, saya tahu bahwa sekalipun semua barang pusaka yang lain pun diambil, namun kalau saja Masjid Demak dan Makam Adilangu tetap ada, maka itu sudah cukup. Hanya dua inilah yang merupakan pusaka sejati Tanah Jawa.”

0 Komentar