Menelusuri Nisan Bertuliskan Arab di Kompleks Makam Blok Wuni Desa Dawuan Cirebon

Batu nisan di Kompleks Pemakaman Umum Blok Wuni Desa Dawuan bertuliskan lafadz \"La ilaha illallah muhammadur r
Batu nisan di Kompleks Pemakaman Umum Blok Wuni Desa Dawuan bertuliskan lafadz \"La ilaha illallah muhammadur rasulullah\" yang ditulis dengan cara diukir. Sedangkan, di bagian batu nisan lainnya terdapat sebuah nama.
0 Komentar

Kuburan juga jadi medan akulturasi yang ampuh dalam tradisi Nusantara. Nisan sebagai pelengkap kuburan di Indonesia sebenarnya hasil pengaruh dari kebudayaan orang Eropa yang datang ke Nusantara. Dalam Kamus Umum Belanda-Indonesia (2001) anggitan Wojowasito, yang dimaksud batu nisan ialah kata grafzerk: “batu kubur/nisan yang dibaringkan (di atas makam).

Menurut Lilie Suratminto dalam Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia (2008), batu nisan ditemukan sepanjang periode VOC berada di Nusantara (1616-1799). Istilah nisan, menurut Dirk van Hinloopen Labberton(1934), seorang amtenar kolonial yang banyak meneliti tradisi Indonesia, berasal dari bahasa Arab “nisyan”, yang bermakna tonggak di atas makam Islam. Setelah diusut lebih jauh dalam berbagai kamus Arab, ternyata tiada ditemukan lema nisyan. Memang tidak dikenal terminologi nisan dalam budaya Arab. Orang yang dikebumikan lazimnya tidak dikasih tanda batu nisan laiknya di Indonesia.

Muncul dua penafsiran atas istilah nisan. Pertama, “nisan” merupakan turunan kata nasiya “lupa” (kata kerja), sementara kata bendanya nasyanaanatau nisyaanan. Ringkasnya, biar tidak lupa pada makam yang wafat, ditaruh tanda nasyaanan (nisyaanan).

Baca Juga:Perjalanan Kabupaten Cirebon Timur dari Prabu Amuk Marugul hingga Kawasan Cultuurstelsel 1830Tradisi Ritual Tahunan Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Cirebon

Tafsir kedua, lema nisan bermuasal dari kata al insan ‘manusia’, sebab antara kata insan dan nisyaanan begitu dekat. Terdapat ungkapan dalam bahasa Arab: Summiyal insanu li nisyanihi. Artinya, Dia dikatakan manusia lantaran (bersifat) lupa. Selarik ungkapan lainnya: Al insan mahallul khatta’ wa nisyan. Kalimat tersebut memuat arti bahwa manusia itu memiliki kecenderungan salah dan lupa.

Tampaknya tafsir terakhir lebih mendekati kebenaran, yakni kata “nisan” bermula dari kata insan, lantas berubah menjadi “nisan”. Perubahan itu diduga kuat lantaran adanya gejala bahasa metatesis, yaitu perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam kata. Semisal, riwa-riwi bersalin menjadi wira-wiri, dan rontal bersalin lontar. Demikian pula sangat mungkin perubahan letak (i) dan (n) dalam insan dan nisan.

Dari kilas balik ini, bahwa kuburan komplit dengan nisan maupun kijing bukan sekadar penanda identitas dan status sosial orang yang dikubur, tapi juga bentuk penghormatan manusia yang hidup kepada mereka yang telah meninggal.

0 Komentar