TOKOH pemikir peradaban Islam kontemporari, Tan Sri Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas meninggal dunia pada usia 95 tahun kira-kira pukul 6.47 petang, Ahad (8/3).
Kabar duka atas meninggalnya filsuf berusia 94 tahun ini disampaikan oleh Menteri di Departemen Perdana Menteri (Bidang Agama) Dr Zulkifli Hasan melalui Instagram.
“Almarhum dikenal sebagai seorang mujaddid, pemikir, dan cendekiawan yang menghidupkan kembali obor ilmu dan adab di dunia Islam,” kata Senator Dr Zulkifli Hasan dilansir Bernama pada Ahad (08/03/2026) malam.
Baca Juga:Kunjungan Bersejarah AHY ke Vihara Dewi Welas Asih Kota Cirebon: Momen Spesial3 Vihara Bersejarah di Kota Cirebon Terima Sertifikat Hak Milik
Ia mengatakan bahwa kepergian almarhum bukan hanya kehilangan seorang tokoh, tetapi juga kehilangan permata ilmu pengetahuan bagi umat Islam.
“Buah dari pemikiran dan perjuangannya tidak hanya menghidupkan kembali wacana intelektual, tetapi juga berkontribusi pada lahirnya lembaga-lembaga penting seperti Angkatan Pemuda Islam Malaysia (ABIM), Universitas Nasional Malaysia (UKM), Institut Alam dan Peradaban Melayu (ATMA), dan ISTAC (Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam),” katanya.
Pada Oktober 2024, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim menganugerahkan gelar Profesor Kerajaan kepada almarhum atas kontribusinya kepada negara, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam.
“Royal Professor Tan Sri Dr Syed Muhammad Naquib Al-Attas adalah pendiri Institute of Islamic Thought and Civilisation (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam/ISTAC) yang juga merupakan pemikir peradaban Islam kontemporer yang sangat dihormati dan disegani di dalam dan luar negeri, kata Sultan Ibrahim kala itu.
Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal luas sebagai salah satu intelektual Muslim yang berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam modern. Ia lahir pada tahun 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia.
Sepanjang hidupnya, ia dikenal aktif dalam pengembangan kajian keilmuan yang berkaitan dengan peradaban Islam, khususnya dalam bidang filsafat, sejarah, teologi, serta pendidikan.
Dalam perjalanan akademiknya, al-Attas memberikan kontribusi melalui berbagai karya ilmiah yang membahas konsep peradaban Islam dan pemikiran keagamaan. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari referensi yang digunakan dalam studi keislaman di berbagai institusi pendidikan.
Baca Juga:Pentingnya Literasi Wujudkan Pendidikan Berkualitas dan Kecakapan HidupBoneka Raksasa Condong Semarak Budaya Desa Kalisapu di Sedekah Bumi Nadran Pesta Laut
Selama masa pengabdiannya di dunia akademik, ia menghasilkan lebih dari 30 buku dan monograf yang membahas beragam tema dalam kajian peradaban dan filsafat Islam.
