Latar Belakang Revolusi Prancis 1789: Krisis, Ketimpangan, dan Runtuhnya Monarki

Storming of the Bastille
Storming of the Bastille
0 Komentar

Mengutip dari publikasi Columbia University, tanda-tanda revolusi semakin jelas terlihat pada akhir dekade 1770-an, ketika krisis keuangan membelit pemerintahan monarki Prancis. Perang melawan negara-negara lain, khususnya Inggris, hingga pengiriman bantuan militer Prancis kepada pejuang kemerdekaan Amerika Serikat, membikin kas negara Raja Louis XVI terkuras.

Keuangan yang menipis itu memaksa Raja Louis XVI mencari dana darurat dari peningkatan pajak. Namun, kenaikan pajak berarti makin besar pula beban bagi mayoritas rakyat Prancis. Di sisi lain, ekonomi Prancis sedang memburuk sehingga jumlah orang melarat meningkat pesat.

Pada abad 18, masyarakat Prancis secara umum terpilah menjadi 3 kelas sosial. Golongan pertama ialah minoritas yang terdiri atas para rohaniawan gereja. Kemudian, kelas yang kedua merupakan para bangsawan, juga termasuk minoritas dari segi jumlah. Adapun golongan ketiga yang menjadi mayoritas populasi terdiri atas borjuis (kelas ekonomi menengah), buruh, petani, dan lain-lain.

Baca Juga:Revolusi Amerika dan Pengaruh Besarnya terhadap Demokrasi DuniaRuntuhnya Kerajaan Sunda, Dari Raja-Raja Bermasalah hingga Tekanan Pesisir Utara Jawa

Golongan pertama dan kedua memiliki banyak hak istimewa, termasuk bebas dari pajak, monopoli atas jabatan pemerintahan, hingga mendapatkan uang pensiun. Maka dari itu, saat kerajaan butuh tambahan dana darurat, golongan ketigalah yang terancam menjadi sasaran peningkatan pajak.

Untuk menggulirkan rencana mengatasi krisis keuangan, Raja Louis XVI meminta Estates General (majelis legislatif atau majelis konsultatif) bersidang. Estates General berisikan perwakilan 3 kelas (golongan sosial) di Prancis. Tidak mengherankan, perwakilan dari golongan ketiga bersuara keras mendorong agar pajak dikenakan kepada para pemilik hak istimewa. Namun, terjadi pertikaian di sidang Estates General.

Perwakilan golongan ketiga di History.com kemudian berinisiatif menggelar sidang sendiri, dan hanya melibatkan sedikit reformis dari 2 golongan lain. Mereka membentuk The National Assembly (Majelis Nasional) pada 17 Juni 1789 dan mengagendakan pembentukan konstitusi baru di Prancis.

Pertentangan antara golongan masyarakat atas dan bawah di Prancis itu meningkatkan kebencian rakyat terhadap monarki. Apalagi Raja Louis XVI dan istrinya Maria Antoinette memiliki kehidupan mewah, termasuk saat Prancis sedang mengalami krisis keuangan.

Di tengah situasi politik semakin memanas, meledak protes massa yang berujung pada kerusuhan pada 14 Juli 1789. Ribuan massa hari itu menyerbu penjara Bastille, membebaskan tahanan, juga merampas senjata hingga mengeksekusi komandan bui di Kota Paris tersebut.

0 Komentar