Wibawa Kerajaan Prancis pun terus merosot sehingga kesulitan mengontrol situasi. The National Assembly sebaliknya justru berhasil menjalankan sejumlah inisiatif penting pada 1789.
The National Assembly berhasil membentuk pasukan nasional dengan Jenderal Lafayette sebagai panglima. Putusan sidang 4 Agustus 1789 itu dibarengi dengan pencabutan hak istimewa golongan gereja dan bangsawan.
Tak berhenti di sana, Deklarasi Hak Rakyat dan Warga Negara Prancis dikumandangkan pada akhir Agustus 1789 oleh The National Assembly. Deklarasi itu mempopulerkan slogan Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Keadilan, dan Persaudaraan) yang menjadi semboyan Revolusi Prancis.
Baca Juga:Revolusi Amerika dan Pengaruh Besarnya terhadap Demokrasi DuniaRuntuhnya Kerajaan Sunda, Dari Raja-Raja Bermasalah hingga Tekanan Pesisir Utara Jawa
Masih di tahun 1789, The National Assembly akhirnya memaksa Raja Louis XVI untuk menjalankan pemerintahan monarki konstitusional. Namun, revolusi tidak berhenti hingga perubahan yang lebih radikal terjadi.
Puncaknya ketika Raja Louis XVI dan istrinya, Marie-Antoinette, dipenggal dengan pisau guillotine pada 1793. Hanya 3 tahun usai penyerbuan Penjara Bastille, monarki Prancis rontok. Sejak bulan September 1792, pemerintahan Republik Prancis resmi berdiri.
Latar belakang Revolusi Prancis 1789-1799 tidak hanya berhubungan dengan politik dan ekonomi. Peristiwa yang memantik perubahan besar di Eropa tersebut juga tidak terlepas dari gagasan baru yang kelak juga mendasari prinsip-prinsip hak asasi manusia dan demokrasi.
Ulasan di laman History.com menyimpulkan, keterlibatan militer Prancis dalam membantu pejuang kemerdekaan Amerika Serikat melawan Britania Raya (Inggris) turut mendorong perubahan sikap sejumlah tokoh reformis terhadap monarki absolut Louis XVI.
Revolusi Amerika memungkinkan pertukaran ide, nilai, dan filosofi antara orang-orang Prancis dan pejuang kemerdekaan AS. Interaksi kedua bangsa memperkokoh pengaruh gagasan Pencerahan di Prancis, seperti pengakuan hak-hak dasar manusia, kesetaraan bagi semua warga negara, hingga pembatasan kekuasaan pemerintah. Sejumlah reformis Prancis yang membantu pejuang Amerika meraih kemerdekaan dari monarki Inggris lantas turut menentang Louis XVI.
Majelis Nasional Prancis bahkan menjadikan Declaration of Independencemilik AS model rujukan saat menyusun Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara pada 1789. Dua deklarasi tersebut sama-sama mengadopsi ide-ide Pencerahan, seperti prinsip persamaan hak dan kedaulatan rakyat.
Jika menilik ke belakang, ideologi yang menginspirasi Revolusi Amerika sebenarnya telah mekar di Prancis sejak awal Abad 18. Di buku Sejarah Dunia II (2020) karya Siti Fauziyah dan Eva Syarifah Wardah, dijelaskan setidaknya ada 3 pemikir yang menginspirasi gerakan Revolusi Prancis 1789.
