Runtuhnya Kerajaan Sunda, Dari Raja-Raja Bermasalah hingga Tekanan Pesisir Utara Jawa

Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
0 Komentar

Pemberontakan Wong Pasisir

Bagai pertunjukan drama kontemporer, puncak kejayaan Kerajaan Sunda benar-benar dekat dengan antiklimaks dari eksistensi kerajaan itu. Tidak lama berselang dari masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, hadir eksponen-eksponen politik Islam di Pulau Jawa.

Eksponen-eksponen politik ini langsung maupun tidak langsung telah memengaruhi pondasi pemerintahan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa yang manunggal dengan sistem keagamaannya.

Terlebih, para penguasa Islam pendatang anyar itu menduduki pos-pos dagang di pesisir utara Pulau Jawa. Jadi, apabila sewaktu-waktu mereka memberlakukan sistem monopoli dan memberontak pada pemerintahan raja-raja Hindu-Buddha di pedalaman, maka hal itu akan segera menyebabkan efek embargo.

Baca Juga:Bagaimana Sunda-Galuh Mengambil Alih Jawa Barat dari Pengaruh Sriwijaya?Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni Belanda

Skema akan hal itu pada kasus Kerajaan Sunda pernah dibahas oleh Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara (2009). Ia mengutip naskah Carita Purwaka Caruban Nagari sebagai rujukan. Disebutkan bahwa penguasa Islam di Cirebon, yakni wali qutub Sunan Gunung Jati telah menghentikan pengiriman upeti berupa uyah kalawan trasi (garam dan terasi) untuk raja di Pajajaran sebagai tanda perlawanan.

Hal ini tak ayal telah menyebabkan kegaduhan, sehingga tidak lama dari situ Surawisesa yang tengah memerintah kemudian mengirimkan peringatan. Di luar benar atau tidaknya peristiwa ini, yang jelas naskah Carita Purwaka Caruban Nagari telah merekam suatu informasi penting mengenai metode yang digunakan oleh para penguasa Islam di pesisir untuk melemahkan raja-raja yang belum memeluk agama tauhid di pedalaman.

Belakangan, embargo ekonomi yang diberlakukan oleh Cirebon makin menjadi-jadi, karena kemudian pelabuhan-pelabuhan pesisir utara Sunda juga dicaplok satu persatu.

Sebagaimana disebut oleh Tjandrasasmita, mula-mula Pelabuhan Banten dan sekitarnya yang menjadi sasaran pasca Cirebon memberontak. Dengan menempatkan Maulana Hasanuddin—putra Sunan Gunung Jati yang berdarah Banten, Pelabuhan Banten kemudian bertransformasi menjadi pelabuhan kaum muslimin yang berjejaring dengan Demak dan Cirebon.

Puncaknya, Pelabuhan Sunda Kalapa yang akhirnya tunduk pada kekuatan liga Islam-Jawa. Akhirnya, Sunda terkungkung dalam kesendirian tanpa pemasukan barang yang datang luar negeri.

Raja-Raja Tanpa Kualitas

Pertanyaannya, apakah aspek-aspek ekonomi sebagaimana disebutkan di atas merupakan penyebab utama dari keruntuhan Kerajaan Sunda pada akhir abad ke-16 M?

0 Komentar