Runtuhnya Kerajaan Sunda, Dari Raja-Raja Bermasalah hingga Tekanan Pesisir Utara Jawa

Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
Situs Batu Tulis Huludayeuh di Cirebon, Jawa Barat. (Pemkab Cirebon)
0 Komentar

Husein Djajadiningrat dalam Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten (1983), percaya bahwa keruntuhan Kerajaan Sunda murni disebabkan serangan Kesultanan Banten ke ibu kota Pakwan Pajajaran tahun 1579, sebagaimana disampaikan dalam sumber-sumber versi Banten.

Namun, jika diperdalam lagi dari sumber sejarah Sunda Kuno, penulis Carita Parahyangan justru menyebut bahwa keruntuhan Kerajaan Sunda-Galuh terjadi lantaran busuknya struktur kerajaan itu sendiri. Sang penulis bahkan menggambarkan masa-masa akhir Kerajaan Sunda itu sangat buruk, dari bagaimana tingkah laku raja-raja yang memerintah pasca Surawisesa.

Mula-mula sang penulis menceritakan Prabu Ratu Dewata, yang disebutkan disemayamkan di Sawah Tampian Dalem. Sang raja dikenal sangat alim dan gemar melakukan kegiatan keagamaan, namun sayang kesalehannya itu menyebabkan ia jadi abai terhadap kerajaannya yang tengah genting.

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Sunda diserang oleh musuh yang tidak diketahui asalnya. Akibatnya, dua pejabatnya tewas di medan perang. Di sisi lain, “mabuknya” sang raja terhadap agama telah menyebabkan banyak ketidakadilan di kerajaannya, misalnya mengenai kasus dieksekusinya beberapa pendeta yang tidak bersalah.

Baca Juga:Bagaimana Sunda-Galuh Mengambil Alih Jawa Barat dari Pengaruh Sriwijaya?Mas Bei Kertowidjojo, Perajin Solo yang Gemparkan Pasar Seni Belanda

Masa pemerintahan Prabu Ratu Dewata hanya berlangsung delapan tahun, hingga ia digantikan oleh Sang Ratu Saksi Mangabatan ring Tasik. Berlawanan dengan pendahulunya, Ratu Saksi sangat gemar perempuan dan konon telah mengawini ibu tirinya sendiri. Delapan tahun pula pemerintahan Ratu Saksi, hingga ia digantikan oleh Raja Nilakendra.

Sama buruknya, sang raja juga gemar berfoya-foya di istana dan menyebabkan rakyatnya konsumtif. Tiga generasi destruktif Kerajaan Sunda ini mencapai hilirnya ketika Nusiya Mulya yang menggantikan Nilakendra kemudian kalah perang melawan koalisi Demak-Cirebon.

Dari sini jelas, bahwa penulis Carita Parahyangan menyalahkan para penguasa Sunda dengan kualitas buruk yang tidak bisa membawa Kerajaan Sunda bangkit dari keterpurukan.

0 Komentar