Soegra Sang Penemu Tarling

Sugra Penemu Tarling
0 Komentar

Ternyata, bunyi gamelan itu bisa beralih pada petikan gitar. Terjadi suatu migrasi bunyi dari gamelan ke gitar. Seperti ada suatu rangkuman tersendiri dari berbagai alat gamelan menjadi hanya satu alat, yaitu petikan gitar. Sugra akhirnya piawai memainkan petikan gitar tersebut. Mengalunlah lagu-lagu klasik bernada kiser, seperti Dermayonan, Cirebonan, Keranginan, Rénggong (dulu namanya Kiser Gedhé).

Masih menurut Supali Kasim dalam tulisannya berjudul Mama Sugra: Dari Gitar Belanda yang Berdenting Terlahir Seni Tarling, pada dekade tersebut anak-anak muda mulai ‘kesengsem’ pada gitar dengan petikan laras klasik daerah. Bahkan mereka pun menambahinya dengan alunan suara suling bambu. Menurut Sugra, pada sekitar tahun 1935 kawan-kawannya berinisiatif menambahi bunyi-bunyian dengan ‘kotak sabun’ yang berfungsi sebagai kendang, serta kendi sebagai gong. Pada tahun 1936 ditambah ‘baskom’ dan ketipung kecil untuk melengkapi bunyi perkusi.

Kesenian tanpa nama itu akhirnya bernama juga. Awalnya ada yang menyebut sebagai “seni melodi”. Di kemudian hari lebih populer sebagai “tarling”, karena bertumpu pada dua alat musik utama yakni gitar dan suling. Ada pula yang menafsirkan sebagai “yén wis mlatar kudu éling” (jika sudah berbuat negatif harus insyaf).

Baca Juga:Siapa Bhumi Segandu?Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di Cirebon

Rombongan seni tarling Sugra mulai terbentuk. Dari mana ia mendapatkan gitar? Menurut Sugra, selama dua tahun ia mengumpulkan uang dengan bekerja, hanya untuk mendapatkan sebuah gitar. Warga seringkali mengundang kelompok tersebut untuk hiburan menemani ‘ngobong bata’, ‘puputan umah’, ataupun ‘kebo lairan’. Beranjak pula untuk acara khitanan.

“Bayaran duwit durung ana. Sing ana iku panganan. Baliké digawani brongkosan,” tutur Sugra, yang maksudnya “Honor uang belum ada. Yang ada mendapatkan suguhan makanan. Pulangnya diberi bungkusan makanan.”

Seringnya acara yang digelar seperti itu membuat warga mulai menyukai kesenian yang dibawakan Sugra dan kawan-kawannya. Honorarium pertama ia terima pada tahun 1936, yakni berasal dari Babah Pranti (seorang WNI Keturunan Cina), yang juga pemilik Toko Pranti di Jl. Ahmad Yani Kota Indramayu (sekarang toko itu tak ada lagi). Usai bermain semalam, ia diberi uang sebesar seringgit.

0 Komentar