Soegra Sang Penemu Tarling

Sugra Penemu Tarling
0 Komentar

Sugra sebagai pemain tarling kembali menggeliat mulai 1947 dengan rombongannya yang diberi nama “Tarling Kota Ayu”. Namun dalam kurun waktu tersebut lebih banyak mengisi acara partai-partai politik secara cuma-cuma. Meski demikian Sugra merasa berterima kasih, karena banyak orang menyenangi tarling.

Sugra sempat pula membentuk grup sandiwara pada tahun 1949 dengan delapan pemain perempuan. Alasannya grup-grup tarling makin bermunculan yang mengakibatkan grupnya mulai tak laku. Namun demikian tarling tetap lekat pada kehidupannya, hingga pada suatu hari secara tak sengaja tembang dan petikan gitar Sugra direkam oleh seseorang yang bernama Gunawan, yang berasal dari Bandung.

Saat itu tahun 1958. Sugra dan teman-temannya diundang Babah Pranti ke rumah untuk diperkenalkan dengan Pak Gunawan. Dikatakannya, di Jakarta dan daerah lainnya banyak lagu-lagu dan aneka kesenian, tetapi yang namanya tarling belum didengarnya. Saat itu Gunawan membawa suatu benda seperti kotak, yang kemudian diletakkan di atas meja.

Baca Juga:Siapa Bhumi Segandu?Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di Cirebon

Sugra dan teman-temannya mulai memainkan tarling, tanpa tahu mereka sedang direkam oleh benda yang seperti kotak. Ketika hasil rekaman itu diputar, Sugra tersentak kaget, karena tak percaya suaranya bisa “nempel” di benda tersebut, yang ternyata sebuah piringan hitam.

Hingga pulang, Sugra tak habis pikir. Bahkan menjadi beban pikiran, jangan-jangan kalau suaranya “nempel” di kotak itu mungkin ia akan cepat mati. Bahkan jika diundang kembali Babah Pranti, ia merasa bingung. Peristiwa yang mengagetkan sekaligus menggelikan itu mungkin sebuah intermezo lakon kehidupannya. Suara Sugra kemudian benar-benar bisa didengar dari hasil rekaman ketika Babah Pranti membeli sebuah membran (loudspeaker model dulu).

Suara Sugra yang diiringi musik tarling pun diputar keras-keras melalui membran tersebut menghadap ke jalan raya. Lakonnya Saida-Saeni. Suara membran yang dianggap “aneh” itu tentu saja menarik perhatian orang yang lalu-lalang hendak ke Pasar Indramayu. Tak sedikit di antaranya yang berhenti sebentar mendengarkan lakon tersebut. Bahkan mereka menitikkan airmata meresapi lakon tragis itu.

Sugra justru merasa malu jika hendak menuju pasar melewati Toko Pranti (sekarang Jl. Ahmad Yani, Indramayu), yang memutar piringan hitam berisi suara tarlingnya. Seringkali ia putar haluan melalui daerah Sekober. Ia merasa malu, karena orang-orang menunjuk-nunjuk dirinya yang menembangkan kesedihan tersebut.

0 Komentar