Orang-orang kemudian menyukai tarling. Banyak warga yang kemudian membuat gitar sendiri. Bukan hanya orang Jawa (pribumi), tetapi juga orang Cina (WNI Keturunan) mulai demam tarling. Tukang kayu, tukang kemasan, hingga tukang kaleng pun membuat gitar. “Sampé-sampé tukang kaléng gawé itar sing séng, waktu ditabuh muniné… sémbér!“ ujar Sugra mengenang.
Dari hari ke hari kesenian tarling makin digemari warga. Tawaran manggung pun mengalir mengisi acara hajatan. Sampai pada suatu hari datang seorang pemain baru yang juga minta bergabung. Namanya Tuleg. Keikutsertaan Tuleg membuat tarling pimpinan Sugra makin terkenal. Bahkan rombongan itu juga kemudian terkenal dengan nama “Tarling Tuleg”.
Ketenaran mereka bukan hanya di wilayah Kabupaten Indramayu, tapi juga hingga ke wilayah tetangga, seperti Kabupaten Cirebon. Pernah pula mereka diminta main di Cirebon, di rumah Juaragan Jana pada tahun 1938. Sugra kaget ketika para pemuda setempat melarang menggunakan kendang. Alasannya, alat musik kendang itu dianggap kampungan jika digabung dengan gitar. Seharusnya menggunakan celo (contra-bass). Tetapi rombongan Sugra tetap memainkan kendang.
Baca Juga:Siapa Bhumi Segandu?Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di Cirebon
Sugra berpikir keras, ketika Tuleg mulai “berulah” dengan seringkali membolos. Tuleg hanya bertahan dua tahun di rombongan tarling Sugra, yakni antara tahun 1938-1940. Tiadanya Tuleg, yang kemudian bergabung dengan rombongan tarling lain pimpinan Pak Muksan di Jatibarang, benar-benar membuat Sugra berpikir keras. Bagaimana tetap eksis tanpa kehadiran Tuleg. Ia sempat bingung, namun inspirasi kemudian muncul. Kenapa pergelaran tidak dilengkapi dengan drama, pikirnya.
Inspirasi itulah yang kemudian ia terapkan. Lahirlah lakon-lakon yang kemudian menjadi lakon legendaris, seperti lakon “Saida-Saéni”, “Pegat-Balén”, dan “Lair-Batin”. Seringkali jika grup tarlingnya manggung, lakon “Saida- Saéni” digelar hingga pukul 03.00 dini hari. Skenario lakon yang berakhir tragis itu membuat penonton terharu dan menguras airmata.
Akan tetapi perjalanan tarling Sugra terasa seeprti di-“rem” mendadak. Sekitar tahun 1942 ia menjalani semacam “wajib militer” yang diberlakukan pemerintah penjajah Jepang. Ia harus memasuki pasukan Keibodan. Mereka yang menolak, akan dibawa oleh Kenpetai untuk menjalani hukuman “karier”.
