Perkembangan kesenian tarling kemudian cukup pesat. Grup-grup baru makin bermunculan di beberapa tempat, termasuk di Kabupaten Cirebon. Namun alat pengeras suara belum digunakan. Jika manggung, seringkali dibarengkan dengan pertunjukan kesenian lain yang lebih hingar-bingar semacam seni Genjring atau Jidur (Tanjidor). Pada saat seperti itu biasanya terpaksa tarling harus menjauh.
Ketika main di Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, ternyata penonton yang gemar tarling memahami hal itu. Mereka mengatur tempat untuk tarling yang tidak berdekatan dengan kesenian lainnya. Tarling pun bisa dinikmati.
Suatu hari di sekitar tahun tersebut Sugra didatangi Jayana dan Raden Sulam, yang kelak menjadi seniman tarling terkenal. Mereka ingin bergabung. Namun saat dites, suara mereka dianggap masih labil. Sugra pun membimbing mereka. Jayana, yang berasal dari Karangampel Kab. Indramayu inilah yang pada masa selanjutnya malang-melintang sebagai wirasuara tarling klasik yang populer. Bahkan seniman tarling Abdul Adjib pun menyebutnya sebagai “the first” (nomor satu).
Baca Juga:Siapa Bhumi Segandu?Orang-Orang Arab dalam Penyebaran Islam di Cirebon
“Saya juga pernah mendapatkan tawaran membuat lagu yang berisikan iklan promosi rokok. Perusahaan rokok itu antara lain cap “Mogo”, cap “1771”, dan rokok produksi Losari Cirebon,” ungkap Sugra yang pada tahun 1990-an itu diwawancarai dan direkam kru Radio Cindelaras Indramayu (Cinde FM, kini).
Seniman tarling Sunarto Marta Atmaja pada tahun 1960-an pernah mengunjungi Sugra di rumahnya. “Saat itu saya sedang main di Desa Sukaurip (sekarang Kec. Balongan). Saya kemudian naik becak ke rumah Mang Sugra. Saya banyak ngobrol tentang asal-usul tarling, dan menyerap ilmu seninya,” ungkap Kang Ato.
Perkembangan kesenian tarling memang pesat. Boleh dikatakan terjadi metamorfosis dalam perjalanannya. Tarling klasik, yang membawakan lagu-lagu klasik daerah amat populer hingga era hingga 1970-an. Era berikutnya hingga tahun menjelang 1980-an mulai berkembang lagu-lau tarling dengan irama yang naik temponya. Seniman tarling Abdul Adjib menyebutnya sebagai “kiser gancang”. Nada dasar lagu tetap pada laras daerah, tetapi tempo iramanya agak cepat.
Kecenderungan ini mulai berubah pula pada era 1980-an hingga 2000-an yang populer dengan tarling-dangdut. Tempo lagu lebih cepat lagi dengan penggunaan tepakan irama gendang dangdut. Bahkan mayoritas lagu sudah terlepas dari laras daerah. Busana yang dikenakan mereka juga sesuai dengan pemain dangdut. Ada pula yang menyebutnya sebagai dangdut pantura. Satu-satunya yang tersisa dari seni tarling adalah bahasa daerah Jawa dialek Dermayu dan Cerbon yang tetap digunakan.
