Sejumlah kapal disediakan untuk berangkat bersama utusan dari Aceh. Meski menunggu agak lama, bantuan meriam tersebut akhirnya sampai di Aceh. Dari beberapa kapal yang dikirim, hanya dua yang berangkat langsung ke Aceh sebab yang lain terpaksa membelok arah untuk menumpas pemberontakan yang terjadi di Yaman.[6]
Bantuan dari Turki tiba di Aceh berupa persenjataan dan 300 orang tenaga ahli diantaranya adalah para ahli dalam bidang teknik, militer, ekonomi, dan hukum tata negara. Di antara persenjataan yang dikirim terdapat meriam besar yang dikenal dengan sebutan Meriam Lada Secupak.[7]
Konon, utusan yang dikirim oleh Kesultanan Aceh harus menunggu waktu lama untuk bisa diterima di istana Turki Utsmani. Akibat menunggu terlalu lama tersebut, hadiah diplomatik berupa lada yang dibawa dari Aceh untuk diserahkan kepada Turki, terpaksa mereka jual sedikit demi sedikit di pasar Turki untuk membiayai hidup selama di sana.
Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon
Saat Istana Turki telah mengijinkan utusan Aceh menemui khalifah, maka tinggallah lada sebanyak secupak yang dipersembahkan diiringi permintaan maaf. Justru karena peristiwa inilah, Turki Utsmani menjadi tersentuh dan bersedia memberikan bantuan. Untuk memperingati kejadian ini maka meriam hadiah Sultan Turki Sulaiman Khan (1523-1566) tersebut lantas diberi nama Meriam Lada Secupak.
Persekutuan dengan Turki Utsmani bagi Aceh saling menguntungkan. Orang-orang Turki mendapatkan lada dari Aceh. Selain itu mereka bekerja sama dalam sumber daya manusia, amunisi, pengecoran besi, nakhoda, dan senjata api.[8] Selain itu banyak pengrajin dari berbagai negara tinggal di Aceh antara lain dari Turki, Cina, dan India.[9]
Tidak hanya itu, di Aceh sendiri banyak tinggal guru-guru yang berasal dari Turki. Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam (memerintah 1607-1636) pada masa mudanya dididik oleh Khuja Manaseeh, seorang guru besar dan ahli bahasa dari Turki. Dari Khuja Manaseeh tersebut calon raja ini mempelajari Bahasa Arab, Turki, Portugis, Belanda, dan Inggris.[10] Pada masa pemerintahannya, Aceh mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Sejumlah nama ulama’ besar di Nusantara hidup pada masa ini antara lain Hamzah Fanshuri, Syamsuddin Pasai, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, dan Syaikh Abdurrauf Singkel (Tengku di Kuala).
