Kisah tentang Sultan Maulana Syamsujen dari Rum (Turki Utsmani) dan Jayabaya ini juga direproduksi dalam karya-karya sastra serupa antara lain Serat Pranitiwakya [15] yang tidak diketahui pengarangnya dan Serat Wedda-Musyawarat[16] karya Ki Ageng Ngeksintoro alias R.M.P.H. Djajengkusumo, seorang pangeran dari Kraton Kasunanan Surakarta.
Karya sastra lainnya, Serat Jangka Jayabaya Syekh Subakir memiliki ide cerita yang hampir sama. Naskah yang juga tidak diketahui pengarangnya ini menceritakan bahwa seorang Sultan Ngerum (Turki) memiliki gagasan untuk mengisi Pulau Jawa yang masih kosong dengan manusia. Misi pengiriman manusia pertama kali gagal, sebab orang-orang yang dikirim itu terbunuh oleh keganasan bangsa setan yang menghuni Pulau Jawa.
Maka Sultan dari Turki lantas mengutus seorang ulama bernama Syaikh Subakir untuk mengisi Pulau Jawa dan mengatasi gangguan yang berasal dari alam ghaib tersebut. Syaikh Subakir berhasil dan Pulau Jawa mulai bisa dikelola oleh bangsa manusia. Pada bagian akhir cerita ia berpesan kepada masyarakat Jawa ini agar berhati-hati sebab suatu ketika mereka akan didatangi oleh orang-orang Prenggi yang dimotivasi keinginan untuk menjajah.
Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon
Mereka akan berkuasa untuk sementara, namun dengan bantuan Sultan Turki mereka akan terusir dari Nusantara.[17] Raden Kusumatanaya, seorang bangsawan dan budayawan Surakarta, menafsirkan bahwa istilah Prenggi itu maksudnya adalah bangsa Portugis dan Spanyol yang beragama Kristen.
Naskah Serat Jangka Jayabaya Syekh Subakir sekali lagi mengingatkan akan keberadaan Turki Utsmani yang dipersepsikan sebagai pihak yang telah memberadabkan dan menyelamatkan Jawa. Bahkan pada bagian akhir naskah, sang pengarang memberi peringatan akan kehadiran bangsa Kristen Barat yang bertujuan menjajah dunia Timur.
Ungkapan ini nampaknya berupaya menekankan tentang penjelajahan dan penjajahan Kristen pasca perang salib. Pada bagian inipun dipersepsikan bahwa Turki akan memberikan bantuan untuk mengusir kaum penjajah tersebut. Di sini nampak bahwa citra dan harapan terhadap Turki yang terbentuk dalam alam pikiran pengarang karya sastra cukup besar.
