Turki Usmani di Mata Jawa

Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
0 Komentar

Namun rombongan tersebut kemudian banyak yang mati akibat wabah penyakit dan hanya tersisa beberapa ratus orang saja yang kemudian kembali ke negara asalnya. Pada waktu yang lain, Aji Saka kembali memimpin ekspedisi kedua yang didampingi oleh Patih Amiru Syamsu. Misi kedua ini menampakkan keberhasilan. Selanjutnya, Sultan Algabah melanjutkan dengan ekspedisi ketiga untuk membudayakan Jawa di bawah pimpinan Said Jamhur Muharram yang langsung menuju ke Kediri, Jawa Timur.[12]

Kisah yang termuat dalam Serat Paramayoga ini jelas sekedar sebuah versi pseudo-historis. Artinya bukan benar-benar sejarah. Keberadaan Sultan Algabah dan bahkan sosok Aji Saka sendiri serta kisah-kisah yang melingkupinya boleh diperdebatkan. Meski demikian wacana imajiner yang terbangun dalam karya sastra ini secara gamblang telah mengangkat Turki Utsmani sebagai icon utama yang berjasa bagi pembangunan awal peradaban Jawa, bukan Hindu atau Budha.

Tidak hanya Serat Paramayoga, kitab Serat Jangka Jayabaya “Musarar” juga mempersepsi secara positif citra Turki sebagai bangsa yang memberadabkan Jawa. Dalam naskah yang tidak diketahui pengarangnya ini diceritakan bahwa Prabu Jayabaya, seorang raja Hindu titisan Dewa Wisnu di Kediri memiliki seorang guru yang berasal dari Rum (Turki Utsmani) bernama Sultan Maulana Ngali Samsujen. Raja pendeta dari Turki ini mengingatkan bahwa Dewa Wisnu yang ada dalam diri Prabu Jayabaya hanya tinggal tiga kali menitis di Tanah Jawa. Setelah itu jaman akan berganti, Pulau Jawa akan dikelola oleh umat Islam.[13]

Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon

Bukan hanya itu, dalam karya sastra ini digambarkan bahwa Prabu Jayabaya yang merupakan raja Hindu dan bahkan titisan Dewa, ternyata adalah pengikut Nabi Muhammad. Hal ini diungkapkan dalam kalimat pada pupuh I tembang Dhandhanggula bait 15 sebagai berikut: “Yen Islama kadi Nabi ri Sang Aji Jayabaya …[14] (Jika Islamnya seperti Nabi beliau Sang Raja Jayabaya).

Dari naskah karya sastra pseudo-historis Serat Jangka Jayabaya “Musarar” tersebut setidaknya dapat ditangkap bahwa Hinduisme tidak berkutik dihadapan Islam. Jaman baru telah datang dengan kehadiran Islam. Alam dewa yang telah lama dianut oleh masyarakat Jawa sekalipun telah ditundukkan dengan kehadiran ulama Muslim dari Rum. Di sini, lagi-lagi citra Turki Utsmani-lah yang dimunculkan kembali sebagai penanggung jawab dari upaya memberadabkan Tanah Jawa, pasca era Hindu.

0 Komentar