JAWA DAN PERSEPSI TENTANG TURKI UTSMANI
Salah satu diskursus penting dalam Sejarah Indonesia berkaitan dengan konstruk “Nusantara Megah” yaitu upaya menggambarkan bahwa Nusantara sejak masa lampau telah memiliki peradaban yang tinggi. Demi kepentingan ini sarjana-sarjana Belanda dan sejumlah kalangan sejarawan sekuler telah menghadirkan konsep Indianisasi sebagai proses yang berhasil membudayakan nusantara.
Citra India inilah yang dianggap telah membawa nusantara di masa lalu mengalami kejayaan. Contoh yang bisa dikemukakan di sini adalah persatuan nusantara di era kuno dikatakan telah berlangsung di bawah panji Sriwijaya dan Majapahit, dua kerajaan yang diakui terpengaruh oleh proses Indianisasi tersebut. Citra India yang merasuk secara sadar atau tidak sadar dalam alam pikiran bangsa Indonesia ini oleh DR. Andrik Purwasito disebut sebagai “imajeri India”.[11]
Keberadaan Imajeri India sendiri sebenarnya telah menghapus konsepsi “nusantara megah” dalam versi berbeda yang dikonstruk oleh sejumlah pujangga pada era pasca dinasti Mataram. Para pujangga yang menghasilkan karya-karya sastra mewakili pandangan Keraton Jawa ini telah membangun persepsi bahwa “nusantara megah” telah terbentuk dari jalinan mesra antara Turki Utsmani dan Jawa. Sayangnya fakta sejarah dan kebudayaan semacam ini jarang terangkat akibat dunia akademis, terutama sejarah Indonesia, sejak awal telah dikangkangi pemikiran para sejarawan sekuler tersebut.
Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon
Kebudayaan India memang memiliki pengaruh di wilayah Nusantara sebelumnya, namun pujangga-pujangga kerajaan Jawa sebagai pelanjut dinasti Mataram, diantaranya adalah Kasunanan Surakarta, nampaknya memiliki kebijakan untuk menghapus “kebesaran” India dari alam berpikir Jawa. Disini, para pujangga tersebut merasa bahwa wacana tandingan terhadap Imageri India perlu dihadirkan.
Menurut para pujangga ini masa Hindu telah berakhir dan digantikan oleh Islam yang membawa peradaban lebih baik. Arab dan Turki dipersepsikan dalam karya sastra yang karang sebagai pihak-pihak yang telah memberikan sumbangan bagi “nusantara megah”.
Sebut saja misalnya Serat Paramayoga karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, pujangga yang paling otoritatif dari Keraton Surakarta. Dalam karyanya tersebut diceritakan bahwa tokoh Ajisaka, seorang dari India yang berumur panjang dan pernah menjadi murid Nabi Muhammad, diperintahkan oleh Sultan Algabah dari Ngerum, sebutan untuk Turki Utsmani pada masa itu, untuk membina Pulau Jawa. Konon, Pulau Jawa pada masa itu masih kosong dan belum dihuni manusia. Ajisaka berangkat ke Jawa dengan diiringi 200 orang.
