Naskah Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro, seorang pangeran dari Kasultanan Yogyakarta yang menjadi pahlawan besar di Indonesia dalam perang melawan Belanda dalam pertempuran yang dikenal dengan sebutan Perang Jawa (1825-1830), mempersepsikan Turki Utsmani sebagai sebuah wilayah yang kental dengan tradisi keilmuan.
Dalam karyanya yang ditulis pada masa pengasingan di Manado pasca berakhirnya peperangan, Pangeran Diponegoro menceritakan perjalanan mencari ilmu agama yang dilakukan oleh Sultan Agung, raja Mataram yang juga merupakan nenek moyangnya. Konon, sebelum menjadi seorang raja, Sultan Agung adalah seorang yang sangat gigih mencari ilmu ke berbagai penjuru negara Islam antara lain Makkah, Mesir, Syam, Turki, dan lain sebagainya. Setiap mendengar ada kabar tentang keberadaan guru empat mahzab yang memiliki keilmuan tinggi, ia akan berupaya untuk mendatanginya.
Kisah ini diceritakan oleh Pangeran Diponegoro dalam Babad Diponegoro pupuh 11 tembang Pocung bait 13 hingga 16 sebagai berikut:
Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon
“Sampun lama jeng pangran neng Mekah iku, sanget mati raga, tan arsa kondura mangke, Mesir, Ngesam, Bental Mukades jinajah.
Naning mendhadru wis langip lampahipun, nut lembak ing driya, tan mantra putraning aji, ing setambul ing ngerum sampun jinajah
Dadya kathah kanjeng pangran tilasipun, saben-saben ngambah, ana tilas siji siji, gen manekung saking karem dating sukma.
Saben ana seh terang maring ngelmu, samya ginuronan, dadya sangsana tyas neki, tingalira dumeling kodrat kang mulya.”[18]
(Telah lama Pangeran berada di Makkah, ia hidup dengan membuat dirinya prihatin, ia tidak ingin pulang kembali ke Jawa, Mesir, Syam, Baitul Maqdis telah dijelajahinya
Tetapi seperti komet perjalannya meski pelan terus melangkah mengikuti keinginan panca indranya, tidak nampak lagi bahwa dirinya adalah putra raja, Istambul di Turki telah ditempuhnya
Banyak tempat telah dikunjungi oleh sang pangeran, setiap mendatangi satu tempat ia beribadah di sana saking cintanya kepada Allah
Baca Juga:Sudah Lama Tak Muncul, Kemana Ibu Negara Iriana Joko Widodo?Terasa hingga Tasikmalaya, Gempa Magnitudo 4,7 di Pangandaran
Setiap ada seorang Syaikh yang dikenal memiliki ilmu ia akan berguru, sehingga hatinya menjadi tempat yang tepat bagi takdir mulia yang akan diterimanya kelak).
