Turki Usmani di Mata Jawa

Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
Dua pelajar dari Jawa di Istanbul, tahun 1900. Sumber: Laman Facebook Ottoman Imperial Archives
0 Komentar

Pangeran Diponegoro sendiri dalam perjuangannya selama Perang Jawa (1825-1830) melawan penjajah Belanda banyak mengadopsi sistem organisasi kemiliteran modern Turki Utsmani. Ia mengadopsi nama-nama kesatuan Militer dari Sultan-sultan Turki Utsmani. Terdapat 14 kesatuan dalam laskar Diponegoro yang sebagian mengadopsi dari Turki antara lain: Bulkiya, Burjumuah, Turkiya, Harkiya, Larban, Nasseran, Pinilih, Surapadah, Sipuding, Jagir, Suratandang, Jayengan, Suryagama, dan Wanangprang. Hierarki kepangkatannya pun sebagian menggunakan aksen Turki antara lain alibasah (ali pasya) yaitu suatu jabatan setara komandan divisi, basah yang setara dengan komandan brigade, dulah setara komandan batalion, dan seh setara komandan kopi.[19]

Mengingat relasi masa lalu yang demikian harmonis antara Indonesia dan Turki, tidak ada salahnya persahabatan masa lalu ini dilanggengkan. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa Islam dengan konsep ukhuwahnya telah mengeratkan dua bangsa yang terpisahkan oleh jarak yang tidak dekat. Inilah kekuatan iman yang mampu melintasi daratan dan lautan.

Oleh Susiyanto, M.Ag – Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun (UIKA)

Baca Juga:Jangka Sabda Palon: Ramalan Kehancuran Islam di Tanah Jawa?Dianggap ‘Pegawai Negeri Buruk’, Walikota Ini Diikat di Pohon

[1] Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Jakarta: Gramedia, 2014, hlm. 60

[2] Muhammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Cetakan I, Medan, 1961, hlm. 145-146

[3] A. Hasjmy (ed.), Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Cetakan III, Al Maarif, 1993, hlm. 235

[4] Lihat Denys Lombard, Kerajaan Aceh…, hlm. 62

[5] Denys Lombard, Kerajaan Aceh…, hlm. 66

[6] A. Hasjmy, Iskandar Muda Meukuta Alam, Jakarta: Bulan Bintang, 1975, hlm. 52; Denys Lombard, Kerajaan Aceh…, hlm. 66

[7] M. Yunus Jamil, Tawarikh Raja-raja Aceh, Banda Aceh: Ajdam I Iskandar Muda, 1968, hlm. 42-43

[8] Denys Lombard, Kerajaan Aceh…, hlm. 170

[9] Denys Lombard, Kerajaan Aceh…, hlm. 197

[10] A. Hasjmy, Iskandar Muda â€¦, hlm. 27

[11] Andrik Purwasito, Imajeri India: Studi Tanda dalam Wacana, Surakarta: Pustaka Cakra, 2002, hlm. 91

[12] Lihat: Andrik Purwasito, DEA. Imajeri India …. Hlm. 51-52

0 Komentar