Ini merupakan bentuk cara seorang Tantris dalam pencarian pembebasan jiwa ketika dia masih hidup. Mencari kebahagiaan dan kebenaran tunggal melalui perputaran energi yang divisualisasikan ke dalam bentuk teratai. Ini merupakan suatu proses pengolahan pikiran dalam tubuh yang melarutkan diri pada kekosongan, hingga mencapai dunia yang dianggap transenden. Dengan kata lain, keabadian di saat hidup.
Wajra
Wajra sebagai batu Permata melambangkan keabadian, kesucian dan kesehatan. merupakan batu yang paling murni di antara batu-batu yang lain dan sebuah benda yang paling keras yang pernah ditemukan manusia, oleh karenanya disebut batu mulia. Kemampuannya untuk merefleksikan cahaya dipercaya mampu meningkatkan kejernihan pikiran dan tubuh. Adapun yang menganggap batu ini mampu meningkatkan keberanian. Dalam bahasa Sansekerta, batu Permata disebut dengan “vajra” yang berarti pencerahan.Sedangkan Saleh Danasasmita menyebut ini adalah Wajra yang memiliki arti petir, atau adalam bahasa Indonesia memiliki arti mani;manik atau permata. Vajrajuga merupakan nama lain dari ajaran Tantra di Budha yaitu Vajrayana.
Beliau mengaitkan Wajra dengan Trisula, yakni suatu senjata Indra dan trisula milik Shiwa. Tidak dipersalahkan, karena sulit menentukan bentuk asli Wajra. Karena sebagian menyebutnya sebagai senjata pukul Dewa Indera hingga menimbulkan cahaya seperti halilintar, seperti Thunderboltyang digunakan oleh Dewa Zeus. Sebagian menganggap yang memiliki dua muka adalah wajra/bajra, ditemukan pula patung-patung baru di India, yang memiliki satu wajah seperti garpu tersebut padabagian atas saja.
Baca Juga:Lukisan Pedagang Garam Suku Maya Kuno, Cirebon Tambak Garam Rakyat TerluasMuhammadiyah Resmi Subuh Mundur 8 Menit
Ada pula bentuk wajra yang tanpa ujung, artinya saling bertemu dan menutup pada masing-masing pangkalnya. Dalam mitos Purana, bahwa Bajra, atau Wajra merupakan senjata dari Dewa Iswara, Iswara sendiri merupakan sosok manifestasi Shiwa dalam Nawasanga. Diceritakan Wajra terbuat dari tuang benulang Dadici1. Yang pada akhirnya dipindahkan tangankan kepada Dewa Indra. Dewa Indra sendiri dalam sekelumit periode tradisi Hindu adalah manifestasi dari Shiwa itu sendiri pula.
Di Indonesia, Wajra yang mengarah ke delapan arah diasosiasikan sebagai arah mata angin. Ini terkait dengan konsep kepercayaan pada Tantra Hindu-Budha, yaitu Astadipalaka. Di mana mereka meletakan kepercayaan yang menganggap ada utusan Dewa-dewa (manifestasi Shiwa) yang menjagagunung Mahameru, sebuah gunung yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu-Budha. Dewa-dewa tersebut bekerja melalui arah mata angin, serta mempunyai peran masing-masing.
