Mengungkap Diagram Magis di Tanah Sunda

Batu Yantra I
Batu Yantra I Foto: Mochamad Ficky Aulia - nusaputra.ac.id
0 Komentar

Motif Ular

Motif terakhir Batu Nyantra I adalah bagian luar dari motif trisula.Penulis memiliki pandangan yang berbeda tentang ini dari apa yang menurut Saleh merupakan sebuah stilasi gajah. Membaca kedelapan arah Wajra, penulis kemudian beranggapan ada kemungkinan-kemungkinan lain yang terkait. Salah satunya adalah bahwa ini menyerupai bentuk ular. Yang merupakan simbol dari Dewi Parwati atau Durga. Beliau adalah seorang Shakti dari Shiwa.

Sistem monisme Shiwa meleburkan diri terhadap Brahma melalui persetubuhan energi kosmosnya dengan Dewi Parwati. Ini merupakan simbol dari penyatuan dua entitas. Shiwa digambarkan seperti seluruh semesta. Kemudian DewiParwati disimbolkan dengan bagian bawah, karena kaitannya dengan kesuburan. Begitu pula ular dipercaya oleh masyarakat primordial sebagai Dewi bumi. Karena letaknya yang di bawah.

Batu Nyantra II

Agus Aris Munandar menganggap ini adalah warisandari Raja Tarumanegara, dan mereka bukan penganut paham Wajrayana, melainkan mereka penganut Weda kuno (yang sebenarnya metode Tantra telah ada namun samar penamaannya). Suatu anggapan yang menarik, karena di sekitaran daerah Ciaruteun, masih dalam komplek tersebut, terdapat prasasti Ciaruteun, prasasti peninggalan Tarumanegara yang terdapat ukiran Sansakerta mengenai pemujaannya terhadap Waisnawa. Istilah Waisnawa tersebut di India justru lebih popular di kalangan Tantris. Sebagai bentuk pengabdian terhadap wisnu.

Baca Juga:Lukisan Pedagang Garam Suku Maya Kuno, Cirebon Tambak Garam Rakyat TerluasMuhammadiyah Resmi Subuh Mundur 8 Menit

Jika ini merupakan produk Tantra, maka ini dibuat oleh para penganut metode Tantra Waisnawa (Wisnu) atau (Pancharatra).Di mana para penganutnya menyembah Wisnu, tetapi Wisnu di dunia Tantra bukan merupakan sumber Dewa utama. Melainkan wujud transendensi lain dari semesta dan kehidupan, cara kepercayaan ini dilakukan Tantris dalam rangka bertujuan agar dapat masuk ke dimensi Brahma –yang seiring juga mengabdi pada Shiwa.

Batu Nyantra II berukuran lebih kecil dari sebelumnya yang pertama. Dari segi motif batu ini berbeda dengan Batu Nyantra I, juga adanya cekungan dalam pada batu, pada tradisi Sunda disebut Dakon. Peneliti arkeologi di Balai Arkeologi Bandung, Sriwahyuni dan Nanang Sartono beranggapan :“ini merupakan dua polesan yang berbeda zaman, antara motif dan dakon.”

0 Komentar