Kudeta Purbasora di Kerajaan Galuh

1200px Cangkuang 4
Candi Cangkuang, salah satu warisan era Galuh (Wikimedia Commons)
0 Komentar

Akhirnya Resiguru Demunawan dengan pengiringnya barisan pendeta turun dari Saung Galah menuju palagan (medan perang) Galuh. Dengan wibawanya yang besar sebagai tokoh tertua Galuh yang masih hidup, Resiguru Demunawan berhasil menghentikan pertempuran sehingga terjadi gencatan senjata. Dalam usia 93 tahun Resiguru Demunawan kelahiran Kabuyutan Gunung Galunggung memimpin perundingan perjanjian antara Sanjaya dan Manarah (Ciung Wanara) di keraton Galuh. Hasilnya adalah kesepakatan berupa pembagian wilayah. Hasil perjanjian tersebut :

  1. Kerajaan Sunda dengan  dirajai oleh Hariang Banga alias Kamarasa dengan gelar Prabu kretabuana Yasawiguna Ajimulya, dengan batas Negara dari Sungai Citarum ke Barat.
  2. Kerajaan Galuh dirajai oleh Suratama alias Sang Manarah dengan gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana.

Demunawan menguasai kerajaan Saung Galah dan bekas kerajaan Galunggung (sampai dengan 774 M).

Manarah atau Ciung Wanara memerintah selama kurang lebih 44 tahun, dengan wilayah pemerintahannya antara daerah Banyumas sampai ke Citarum, setelah cukup lama memerintah, Ciung Wanara mengundurkan diri dari pemerintahan, pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh menantunya sendiri yaitu Sang Manistri atau Lutung Kasarung suami dari Putri PurbasariPrabu Manisri bergelar Prabu Darmasakti Wirajayeswara,  berkuasa dari tahun 783 – 799 M. Prabu Manarah, pada tahun 783 Masehi,  melakukan Manurajasunya Di Darmaraja Sumedang Larang.

Referensi

  1. Ekajati, Edi S. 2005. Kebudayaan Sunda Zaman Pajajaran. Yayasan Cipta Loka Caraka.
  2. Noorduyn, J.. 2005. Three Old Sundanese poem. KITLV Press.
  3. Naskah Carita Parahyangan (1580), fragmen Kropak 406. Naskah beraksara Sunda Kuno, bahasa Sunda Kuno. Koleksi: Perpustakaan Nasional RI.
  4. Sukardja, H. Djadja, 2002. Situs Karangkamulyan. Ciamis: H. Djadja Sukardja S. Cet-2.
  5. “Kerajaan Sunda Galuh” wikipedia.org Diakses 10 Juni 2019.
  6. Tim Penulis Sejarah. 1984. Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat, Pemda Propinsi DT I Jawa Barat
  7. Dinas Pariwisata Ciamis, 2003. Wisata Ciamis.
  8. “Sekilas Sejarah Galuh” sejarahtatarpasundan.blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  9. “Kerajaan Galuh” West Java Kingdom blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  10. “Pohaci Rababu & Dewi Pangrenyep: Skandal Demi Skandal Penyulut Gonjang Ganjing” Babad Wong Wedok Nusantara blogspot.com Diakses 10 Juni 2019.
  11. Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-330-5
  12. Saleh Danasasmita. 2003. Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi. Kiblat Buku Utama, Bandung. ISBN
  13. Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: Yuganing Rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.
  14. Darsa, Undang A. 2004. “Kropak 406; Carita Parahyangan dan Fragmen Carita Parahyangan“, Makalah disampaikan dalam Kegiatan Bedah Naskah Kuno yang diselenggarakan oleh Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga. Bandung-Jatinangor: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.
  15. Lubis, Nina Herlina., Dr. MSi, dkk. 2003. Sejarah Tatar Sunda jilid I dan II. CV. Satya Historica. Bandung.
0 Komentar