Karena skandal itu, negeri Galuh geger kembali. Untuk meredam keributan, Sanjaya lalu mengungsikan Tamperan Barmawijaya untuk sementara ke Pakuan, ibukota kerajaan Sunda. Usaha tersebut ternyata berhasil karena untuk kurun waktu yang cukup lama negeri Galuh menjadi aman.
Selanjutnya pada tahun 731 Sanjaya kembali ke Kalingga karena mendapat kabar bahwa ayahnya, Senna, akan turun tahta. Tahun itu pula Sanjaya mendapat kepastian bahwa Premana Dikusuma tetap ingin tinggal di pertapaan.
Tahun 732 M Senna baru benar-benar turun tahta. Kedudukan Senna di Kalingga diganti oleh Sanjaya sedangkan Tamperan Barmawijaya menggantikan Sanjaya di Jawa Barat dengan mengambil kedudukan di Galuh. Sejak Sanjaya naik Tahta, nama Kerajaan disebut Medhang Bhumi Mataram. Dengan demikian Tamperan pada usia 28 tahun telah menjadi penguasa Sunda-Galuh, yang wilayahnya meliputi seluruh Jawa Barat ditambah bagian barat Jawa Tengah (sekarang ini).
Baca Juga:Dimanakah Makam Istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang?Teka-Teki Pulau Jawa Versi Marcopolo
Saat menjadi penguasa Sunda-Galuh, Tamperan Barmawijaya belum mempunyai permaisuri walaupun sudah mempunyai anak berusia 9 tahun hasil selingkuhnya dengan Dewi Pangrenyep. Sebenarnya ia ingin menjadikan Dewi Pangrenyep sebagai permaisuri namun adat atau hukum yang berlaku tidak mengizinkannya. Itu terjadi karena Pangrenyep masih berstatus sebagai isteri Premana Dikusuma.
Menghadapi situasi yang dianggapnya rumit ini, rupanya gejolak asmara menumpulkan akal. Tamperan Barmawijaya tidak mau lagi berpikir njlimet. Ia menyelesaikan persoalan ini dengan cara menyuruh seorang prajurit kepercayaannya untuk membunuh Premana Dikusuma (Ajar Sukaresi). Sang prajurit pergi seorang diri dengan cara rahasia dan berhasil menunaikan perintah rajanya. Dengan lega prajurit keluar dari pertapaan, namun ia terkejut saat dihadang pasukan pengawal, ia dibinasakan oleh pengawal Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan). Ini konspirasi tingkat tinggi di masa itu.
Setelah Premana Dikusuma tewas, sekitar tahun 732 M, Tamperan lantas memperisteri Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sekaligus. Dewi Pangrenyep menjadi permaisuri sedangkan Dew Naganingrum menjadi selir. Teknisnya dilakukan dengan cara rapi. Berita terbunuhnya Premana Dikusuma cepat tersebar di keraton Galuh, karena sengaja disebarkan. Dan dikatakan bahwa pembunuhnya telah ditangkap dan diadili oleh Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan), dengan demikian ia berjasa atas keraton Galuh. Karena jasanya itu, Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan) berhasil memperistri Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep juga berkuasa atas tahta Sunda dan Galuh.
