Mandiminyak kemudian menggantikan ayahnya, Wretikandayun, yang wafat tahun 702 M, sebagai Raja Galuh. Dengan demikian posisi Mandiminyak semakin kuat. Ia berkuasa atas Kalingga (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan Galuh (Jawa Barat). Dalam posisinya yang kuat itu, tidak berapa lama sekitar tahun 703/704 M, Mandiminyak menjodohkan cucunya, Sanjaya, dengan Sekar Kancana (Teja Kancana Ayupurnawangi), cucu Raja Sunda Tarusbawa yang berkedudukan di Pakuan. Dari perkawinan Sanjaya-Teja Kancana ini kelak lahir anak laki-laki yang dinamakan Tamperan Barmawijaya (704-739 M).
Sempakwaja menjadi Resiguru di Galunggung dan diberi gelar Batara Danghiyang Guru. Ia menikah dengan Pohaci Rababu, ia berputra :
- Rahiyang Purbasura, lahir 565 Caka (670 M)
- Rahiyang Demunawan, Sang Seuweukarma, lahir 568 C (673 M)
Pada tahun 709 M di Kerajaan Galuh, Rahyang Mandiminyak meninggal. Ia digantikan oleh Senna, anaknya dari Pohaci Rababu.
Baca Juga:Dimanakah Makam Istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang?Teka-Teki Pulau Jawa Versi Marcopolo
Bratasenawa atau lebih dikenal sebagai Senna, menjadi Raja Galuh ketiga. Ia merupakan anak dari hubungan gelap antara Mandiminyak dan Pohaci Rababu. Bratasenawa memiliki putera yang bernama Sanjaya. Dari pernikahan Sanjaya dengan cucu Tarusbawa, maka Bratasenawa dikenal sebagai sahabat baik dari Tarusbawa.
Sikap yang dimiliki Senna berbeda dengan sikap ayahnya yang masa mudanya terkenal liar. Senna merupakan raja yang taat beragama dan bijaksana. Tapi sikap baiknya itu tetap tidak dapat diterima oleh sebagian pembesar Galuh, mengingat Senna adalah anak hasil dari hubungan gelap.
Banyak orang yang membenci keberadaan Senna sebagai raja Galuh, tetapi hanya 2 orang yang sangat-sangat membenci Senna. Dua orang tersebut adalah Purbasora dan Demunawan, mereka tak lain adalah putera pasangan Sempak waja dengan Pohaci Rababu. Dengan demikian mereka berdua adalah saudara se-ibu dari Senna. Kedua orang itu sangat membenci Senna dikarenakan mereka merasa lebih berhak untuk meneruskan tahta Galuh daripada “anak hasil skandal ibunya” tersebut. Karena asal-usul Senna yang kurang baik itulah yang membuat Purbasora menginginkan merebut tahta Galuh.
