Manarah atau Ciung Wanara, anak Premana Dikusuma dengan Dewi Naganingrum yang saat itu berusia 14 tahun, diperlakukan sebagai anak oleh Tamperan.
Sementara itu Balagantrang yang pada tahun 723 M lolos dari serbuan Sanjaya telah menyusun kekuatan untuk merebut kembali tahta Galuh. Persiapan itu dilakukannya di Geger Sunten. Perlahan-lahan ia mencari dukungan, termasuk membujuk Manarah dan sekutu lainnya. Dalam kisah rakyat, Ciung Wanara dibuang dan dibesar serta dididik oleh Ki Balangantrang.
Tujuh tahun setelah kematian Premana Dikusuma, yaitu tahun 739 M, Balagantrang dan Manarah beserta pasukannya menyerbu Galuh. Karena tidak mengira dan tidak siap maka Tamperan dan Dewi Pangrenyep tertangkap dan dipenjarakan. Sementara itu, Banga – anak Tamperan dengan Pangrenyep – tidak ditangkap dan diperlakukan dengan baik oleh Manarah. Bagaimana pun juga Banga adalah saudaranya satu ibu.
Baca Juga:Dimanakah Makam Istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang?Teka-Teki Pulau Jawa Versi Marcopolo
Banga atau Hariang Banga yang berusia 15 tahun itu, merasa bimbang. Apalah arti kebebasan bagi dirinya kalau ayah-ibunya menderita dipenjara sebagi tawanan. Hingga suatu malam Hariang Banga nekat melepaskan kedua orang tuanya, dengan melumpuhkan para penjaga terlebih dahulu. Sang Banga berhasil melepaskan kedua orang tuanya untuk melarikan diri menuju Keraton Bumi Mataram. Namun kejadian ini ketahuan pasukan Manarah dan Balagantrang.
Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan) dan Dewi Pangrenyep lari di kegelapan malam menuju Mataram. Pasukan Manarah dan Balagantrang terus mengejar. Tamperan dan Pangrenyep dihujani anak panah. Akhirnya raja dan ratu itu tewas bersimbah darah dalam kegelapan malam jauh dari purasaba Galuh.
Peristiwa kematian Tamperan Barmawijaya (Raja Bondan) akhirnya sampai ke Bumi Mataram, alangkah murkanya Raja Sanjaya mendengar peristiwa tersebut. Dengan mengerahkan angkatan perang yang besar, Raja Sanjaya bergerak dari Medang Bumi Mataram menuju purasaba Galuh. Namun Sang Manarah telah memperhitungkan kemungkinan tersebut dan mengerahkan seluruh pasukan Galuh diperbatasan. Dua keturunan Wretikandayun saling berhadapan, masing-masing mengerahkan angkatan perangnya. Akhirnya gotrayudha (perang saudara) yang sangat dahsyat pecah kembali. Perang berlangsung beberapa hari namun belum menunjukkan ada yang kalah dan menang.
