Setelah Prabu Purbasora wafat Sanjaya naik tahta di Kerajaan Galuh dengan permaisuri Sekar Kancana yang bergelar Teja Kancana Ayu Purnawangi (cucu Prabu Tarusbawa dari anaknya Mayangsari)/ Prabu Sanjaya bergelar Maharaja Harisdarma Bimaparakrama atau Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya. Sejak saat itu Prabu Sanjaya menjadi Raja Sunda dan Raja Galuh dan tinggal di Pakuan, Ibukota kerajaan Sunda.
Karena menguasai Galuh itulah maka kini Sanjaya secara otomatis berhasil menyatukan Kalingga, Sunda dan Galuh. Namun situasi politik pasca perbutan kekuasaan masih belum kondusif. Berdasarkan permufakatan dengan para sesepuh Galuh yang masih hidup untuk mencari solusi damai.
Sanjaya ditetapkan untuk tidak memerintah Galuh secara langsung. Sanjaya menyetujui usul Sempakwaja Bhatara Danghyang Guru yang mengangkat Premana Dikusuma anak Wijayakusuma dan cucu Purbasora, sebagai raja Galuh. Premana Dikusuma – suka bertapa dengan gelar Ajar Sukaresi atau Bagawat Sajala-jala – lalu menikah dengan Dewi Pangrenyep (704 M-739 M), anak patih Anggada, Patih dari Kerajaan Sunda. Dewi Pangrenyep ini adalah isteri kedua Premana Dikusuma. Sedangkan isteri pertamanya bernama Dewi Naganingrum (cucu Balagantrang yang lahir 698 M) yang darinya pada tahun 718 M dilahirkan Sang Manarah.
Baca Juga:Dimanakah Makam Istri Prabu Siliwangi, Nyai Subang Larang?Teka-Teki Pulau Jawa Versi Marcopolo
Karena tidak langsung memerintah di Galuh, Sanjaya menempatkan anaknya, Tamperan Barmawijaya (704 M-739 M), sebagai duta di negeri itu. Pada tahun 723 M itu pula Demunawan, adik Purbasora, dinobatkan menjadi Raja Saung Galah di Kuningan.
Dengan adanya pengaturan seperti itu, diharapkan korban jiwa itu, telah selesai sehingga kehidupan negara menjadi tentram dan damai. Namun ternyata tidak demikian. Kedamaian hanya berlangsung dalam bilangan bulan saja. Pada tahun 723 M itu pula terjadi skandal cinta antara Dewi Pangrenyep (isteri kedua Premana Dikusuma) dengan Tamperan Barmawijaya (anak Sanjaya) yang disebut juga Raja Bondan. Sebagai hasil smarakarya (skandal asmara) yang gelap ini maka pada tahun 724 lahirlah Kamarasa atau Sang Banga.
