Bung Tomo, Bawa Kartu Pers Pekik Semangat Perlawanan Arek-Arek Surabaya

0313152020 Goodnewsfromindonesia GNFI bung tomo 2
(Dari kiri ke kanan) Perdana Menteri Sutan Syahrir, anggota Laskar Wanita Indonesia Awibowo, Wakil Presiden RI Mohammad Hatta, dan Bung Tomo selaku pimpinan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) ketika hadir dalam Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang, Jawa Timur, pada Maret 1947. Sumber: De Volkskrant, 20 Maret 1947
0 Komentar

Peristiwa terpenting bagi kehidupan si kecil Sutomo ketika ia bergabung dengan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI, kelak digabungkan dengan organisasi kepanduan lain dan menjadi Pramuka). Notosudarmo kembali berperan, karena ialah yang mendorong Sutomo mengikuti KBI. Filsafat kepanduan ditambah kesadaran nasionalisme diperolehnya dari kelompok ini. KBI merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formal Sutomo muda.

Pada usia 16 tahun (beberapa sumber menyebutkan 17 tahun), ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Pandu Garuda adalah sebutan bagi kepanduan yang telah menyelesaikan tingkat kecakapan tertinggi pada golongannya. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Kartu Pers, Tiket Masuk Arsenal Jepang

Bung Tomo berprofesi sebagai wartawan pada akhir tahun 1930-an. Pada 1938, ia menjadi redaktur mingguan Pembela Rakjat. Setahun berikutnya, tulisannya juga menghiasi majalah Poestaka Timur. Sebelum menjadi wartawan muda, ia sudah rajin mengirim tulisan ke Soeara Oemoem di Surabaya. Di harian Ekspres juga terdapat kolom khusus yang dituliskan olehnya. Sebagian tulisan Bung Tomo yang terbit di muka umum ini berisikan propaganda untuk melawan kolonialisme Belanda.

Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA

Pada masa pendudukan Jepang, Bung Tomo bergabung dengan kantor berita Domei di Surabaya. Tugasnya kala itu memasok berita ke kantor perwakilan Domei di seluruh Indonesia. Berita disebarkan lewat pesan kawat oleh penyampai pesan yang saat itu disebut markonis.

Gaji di Domei lumayan, tetapi kebebasan Bung Tomo dikekang. Sangat dilarang bagi Domei memberitakan kekalahan-kekalahan militer Jepang. Hal itu tak jadi soal bagi Bung Tomo, karena yang terpenting ia mendapatkan akses dan suplai informasi penting bagi kaum pergerakan.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Pasifik dan Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Domei Surabaya pun bubar. Bung Tomo bersama wartawan lain kemudian mendirikan Kantor Berita Indonesia di depan Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit).

Panti Asuhan Don Bosco di Surabaya. Pada masa pendudukan Jepang menjadi gudang persenjataan.info gambar
Domei sudah bubar, tetapi kartu persnya masih di tangan Bung Tomo. Kartu pers inilah yang menjadi andalan dirinya ketika melakukan perebutan gudang persenjataan (arsenal) Jepang.

0 Komentar