Bung Tomo, Bawa Kartu Pers Pekik Semangat Perlawanan Arek-Arek Surabaya

0313152020 Goodnewsfromindonesia GNFI bung tomo 2
(Dari kiri ke kanan) Perdana Menteri Sutan Syahrir, anggota Laskar Wanita Indonesia Awibowo, Wakil Presiden RI Mohammad Hatta, dan Bung Tomo selaku pimpinan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) ketika hadir dalam Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang, Jawa Timur, pada Maret 1947. Sumber: De Volkskrant, 20 Maret 1947
0 Komentar

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, tetapi ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Bung Tomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, tetapi tidak menganggap dirinya sebagai seorang muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981, ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ibadah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya sesuai dengan permintaannya ketika masih hidup.

Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA

”Aku terharu sekali. Tukang becak, tukang sayur, penjual bakso bahkan sampai anak-anak sekolah ikut bersama pejabat tinggi mengantar Bung Tomo,” kata Sulistina yang ikut mendampingi dalam ibadah haji hingga mengantar jenazah suaminya ke tempat pemakaman.

Karena menilai perannya dalam revolusi fisik sangatlah besar, pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh, pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

Referensi: Sutomo (Bung Tomo), “Pertempuran 10 November 1945” | Sutomo (Bung Tomo), “Menembus Kabut Gelap, Bung Tomo Menggugat: Pemikiran, Surat, dan Artikel Politik, 1955-1980” | Sarjono M., “Kisah Bung Tomo” | Sulistina Sutomo, “Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawanmu” | TEMPO Publishing, “Bung Tomo: Soerabaja di Tahun 1945”

 

0 Komentar