Bung Tomo berpidato di depan rakyat Jawa Timur, 1950an. info gambar
Pidato Bung Tomo dari Radio Pemberontakan terus bersuara tiap sore sampai batas kota Surabaya karena dipasangkan pemancar oleh teknisi Antara, Hasan Basri. Daya pancarnya kemudian berlipat ganda setelah Hasan memasangkan pemancar besar bekas Angkatan Laut Jepang.
Radio Pemberontakan kian menggebrak setelah wanita Amerika Serikat berdarah Skotlandia, K’tut Tantri, menyiarkan pidato versi bahasa Inggris. Saat Sekutu menggempur Surabaya dengan bom pada 10-12 November 1945, K’tut memilih bertahan di Radio Pemberontakan. Berbeda dengan K’tut, Bung Tomo menyiarkan pidatonya dari kota Malang karena Surabaya sudah berbahaya baginya. ”Tentara Sekutu menjanjikan hadiah besar bagi bagi mereka yang berhasil menangkapnya,” terang K’tut.
Mengutip dari Bung Tomo: Soerabaja di Tahun 1945, sejarawan Rushdy Hoesein berujar. ”Mungkin dia satu-satunya orang yang saat itu menyadari pentingnya radio bagi perjuangan.” Kemampuan Bung Tomo dinilai bagus ketika berpidato, baik dalam struktur dan tata bahasanya. Kemampuan itu tentunya ia dapat ketika menjabat sebagai wartawan Domei.
Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA
Setelah Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo sempat terjun di dunia politik pada tahun 1950-an. Hanya saja ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Sukarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Bung Tomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.
Bung Tomo turut menghadiri Sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Malang pada Maret 1947.info gambar
Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 pada era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.
Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Bung Tomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.
