Letak gudang persenjataan Jepang berada di Panti Asuhan Don Bosco. Bangunan yang berdiri di dalam kompleks seluas 4,5 hektare tersebut sudah berdiri sejak 1937.
Sebulan setelah kemerdekaan atau pada 16 September 1945, arek-arek Suroboyo bergegas ke Don Bosco. Tujuannya apalagi kalau bukan merebut persenjataan milik Jepang. Mereka terbilang nekat. Masalahnya para arek-arek ini hanya bermodalkan senjata tradisional seperti bambu runcing, pedang, dan celurit.
Suasana di Don Bosco tegang. Sekitar seribu pemuda dan rakyat Surabaya termasuk Bung Tomo ikut menyerbu. Tentara Jepang sendiri sudah siaga di depan bangunan, di atas pohon, bahkan di bawah truk.
Baca Juga:Tol Jogja-Bawen Ancam Makam Nyi PadelinganKerabat Trah Keraton Kasepuhan Minta Bukti Otentik dari pihak Luqman Zulkaedin Berupa Dokumen Pengangkatan Alexander Sebagai Sultan Secara Adat dan Tempuh Jalur Tes DNA
Namun, seorang kakek tua memberi amanat pada kemlopok pemuda Surabaya itu untuk menyerahkan tugas perundingan kepada Bung Tomo. ”Kakek ini minta rakyat Surabaya percaya pada saya,” tulis Bung Tomo dikutip dari buku Dari 10 Nopember 1945 ke Orde Baru.
Bermodalkan kartu pers Domei dan sedikit-sedikit bisa berbahasa Jepang, Bung Tomo pun diizinkan masuk ke Don Bosco untuk menghadap Mayor Hashimoto. Perundingan berlangsung alot. Hashimoto emoh menyerahkan pedang samurainya. Namun, ia akhirnya luluh juga menyerahkan pusaka keluarganya itu pada rakyat Surabaya.
Penyerahan gudang persenjataan itu lalu ditandatangani Hashimoto dan perwakilan rakyat Surabaya, Jasin, di mana Bung Tomo menjadi saksi penyerahan tersebut. Saking banyaknya senjata api di gudang Don Bosco, sebanyak empat gerbong kereta api dikirimkan Bung Tomo ke pejuang Indonesia di Jakarta.
Pekik Semangat untuk Pejuang via Radio Pemberontakan
Bung Tomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan semangat kemerdekaan. Orasinya lewat corong radio mampu membakar semangat para pejuang muda di Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.
Dari bilik radio yang terletak dari sebuah rumah di Jalan Mawar, Surabaya, Bung Tomo menyuarakan pidatonya. Bung Tomo menamainya Radio Pemberontakan. Dinamakan demikian karena radio tersebut penuh semangat pemberontakan. Orang-orang yang tidak mempunyai radio biasanya akan keluar rumah, mengerubungi tiang pengeras suara yang tersebar di Surabaya demi mendengar pidato penyemangat Bung Tomo.
Radio Pemberontakan disiarkan pertama kalinya pada 13 Oktober 1945. Bung Tomo grogi, maklum ini pertama kalinya suaranya menggema untuk publik. Namun berbekal pengalaman melihat pidato Sukarno, Bung Tomo sanggup menyerukan orasinya.
