Kerinduan tiba-tiba meliputi perasaaannya. Kenangan saat berburu ke hutan bersama ayahnya bergantian memenuhi kepalanya. Kata-kata Ramandanya terngiang jelas. Lama tak jumpa Ramandanya, menjadikan lamunan dipenuhi oleh bayangan bersama ayahnya.
Saat sedang termenung, Bagus Jaka terkejut mendapati tanya ibunya yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
“Engkau tidak berangkat ke padepokan Eyangmu Jaka?” tanya Nyi Rasmi pada putranya
Baca Juga:41 Monyet Ki Buyut BanjarLegenda Monyet Kalijaga Cirebon
”Duhai Ibunda, seribu ampun selaksa hampura. Hamba belum meyelesaikan ini”, sambil memperlihatkan gendewa panah yang erat dipegangnya.
Nyi Rasmi memperhatikan putranya yang tengah memegangi gendewanya.
“Lihatlah, Bunda! Bukankah gendewa ini sangat bagus? hamba kerjakan sangat hati-hati, untuk hamba persembahkan kepada Ramanda Panembahan Pakungwati” berondongan tanya Bagus Jaka penuh kegembiraan kepada Nyi Rasmi Ibundanya, sambil mengangkat gendewanya.
Roman Nyi Rasmi tampak sendu, tatkala putranya menyebut-nyebut suaminya yang lama terpisah. Gurat sedih tampak jelas menyelimuti wajah ayu Nyi Rasmi.
Dengan penuh sayang, ibunya mendekap Jaka yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah. Nyi Rasmi menahan perasaan nelangsa yang membuncah dalam hatinya, mendapati ungkapkan kerinduan Jaka sang putra pada ayahnya.
“Ramandamu tak akan mau lagi datang kemari. Tak akan berburu di hutan lagi, tak akan mengenal desa kita lagi , Jaka,” bisik pilu ibunya. Lalu lanjutnya, “Namun ia bukan melupakan kegemarannya, bukan melupakan ibu dan kamu, karena tugas berat memimpin kerajaan tidak mengizinkan ayahmu untuk datang kemari.” ungkap Nyi Rasmi tegas.
“Sekarang berangkatlah ke padepokan kakekmu untuk belajar!” ucap ibunya dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang ibu dan gemblengan kakeknya, menjadikan Jaka tumbuh menjadi pemuda yang tidak cengeng. Pengertian dan kedewasaan pun tumbuh dalam diri Jaka, bahwa ibunya hanya seorang selir raja, yang tidak punya kuasa dan hak untuk turut memikirkan urusan raja.
Kyai Waridhenta benar-benar menjalankan amanat Panembahan Ratu II, untuk mempersiapkan Bagus Jaka menjadi pemuda tangguh dan kuat. Segala kebaikan ilmu keprajuritan, maupun ilmu agama dan pengetahuan lainnya dia turunkan kepada cucunya tersebut melalui latihan yang tak kenal lelah. Bagus Jaka menyerap segala ilmu dari kakeknya sekaligus gurunya dengan baik.
