Kisah Ki Bagus Jaka, Adipati Tandha Moe dari Cirebon

arya kecamatan pasawahan kuningan 2021 0 11zon
Kecamatan Pasawahan (Wikipedia)
0 Komentar

Pamannya tersebut adalah Pangeran Suryapranata (Demang Kejawanan) seorang yang bersikap tenang. Jabatannya sebagai demang itu tak lain juga karena jasa besar juga didikan dari Eyang Bagus Jaka. Karenanya, Demang Kejawanan begitu sayang dan hormat pada keponakannya itu.

Demang Kejawanan menjadikan Bagus Jaka sebagai Pemayung. Pemayung adalah staf ahli untuk menguasai segala kegiatan di keraton. Tugas pemayung adalah jalan bagi Bagus Jaka untuk memasuki keraton ayahnya. Kecerdasan dan kebaikan budi serta perilaku Bagus Jaka, menjadikannya pribadi yang disenangi oleh semua. Termasuk oleh Panembahan. Selain itu Bagus Jaka pun dekat dengan putra-putra ayahnya dengan permaisuri.

Sementara itu situasi Kerajaan Cirebon sedang mengkhawatirkan.. Tekanan Kerajaan Mataram (Sunan Amangkurat I Tegalarum) yang ingin menguasai Kerajaan Cirebon begitu kuat. Mereka menjadi alat Belanda dalam politik pecah belahnya. Panembahan Ratu II, menghadapi keadaan penuh dilema. Keadaan kerajaan pun semakin sulit, setelah permaisuri pulang ke Mataram. Permasuri adalah adik Sunan mataram. Kepulangan permasuri atas perintah Sunan Mataram. Hal itu sebagai bagian rencana halus agar Panembahan Ratu II menyerah.

Baca Juga:41 Monyet Ki Buyut BanjarLegenda Monyet Kalijaga Cirebon

Suasana makin menegang dengan kedatangan pasukan utusan Mataram yang dipimpin Adipati Tan Kondur. Panembahan Ratu II bersikukuh tidak akan menyerahkan kekuasaannya kepada Mataram. Dengan cepat Panembahan mengumpulkan para pejabat kerajaan seperti adipati, tumenggung, demang dan Ki Gedheng di bangsal Jinem dan bangsal Panigara. Pada pertemuan (seba) tertutup tersebut, Raja menyampaikan surat dari utusan Mataram. “Mataram meminta Cirebon tunduk di bawah kekuasaannya.” ucap Panembahan dihadapan para hadirin pertemuan tersebut. Lalu lanjutnya,” Adipati Gebang dan Ki Demang Kejawanan saat ini berada diperbatasan menanti keputusanku. Tapi demi Tuhan! Aku tidak mau ada pertumpahan darah selagi masih dapat dicari jalan yang terbaik.” suara Panembahan Ratu II bergetar.

Di pertemuan tersebut , para pejabat kerajaan Cirebon berkesimpulan bahwa kedatangan utusan Mataram disertai pasukannya jelas untuk menantang prajurit Cirebon. Sehingga harus dihadapi dengan kekuatan pula. Namun Panembahan bersikukuh tidak mau terjadi pertumpahan darah. Menurut beliau, satu-satunya cara adalah dengan mengutus seorang tandha (utusan) yang bisa menandingi Adipati Tan Kondur yang terkenal sakti dan bengis. “Siapakah diantara kalian yang sanggup menjadi Tandha untuk menghadapi Adipati Tan Kondur?”, tanya Panembahan kepada hadirin pertemuan.

0 Komentar