Kisah Ki Bagus Jaka, Adipati Tandha Moe dari Cirebon

arya kecamatan pasawahan kuningan 2021 0 11zon
Kecamatan Pasawahan (Wikipedia)
0 Komentar

Sampai suatu hari di padepokan. Bagus Jaka duduk bersilah takzim menghadap Eyangnya yang tampak renta. Wejangan pun mengalir dari Ki Warudhenta.

“Bagus Jaka, cucuku. Telah sampai saatnya untukmu mengabdikan diri ke haribaan Ayahandamu di Kota Grage (ibukota kerajaan Cirebon). Ayahmu sangat membutuhkan baktimu saat ini, demi Kerajaan Pakungwati dan masyarakat Cirebon,” ujar Ki Waridhenta kepada cucunya. “Ilmu yang aku berikan semoga ada manfaatnya.”

“Apabila itu kehendak Eyang, titah ini hamba laksanakan sebaik-baiknya,” jawab Bagus Jaka. Dalam pikiran dan hati Bagus Jaka, berkecamuk perasaan sedih juga tanya. Sedih karena akan berpisah dengan Kakek dan Ibunya. Dan tanya muncul dalam pikirannya, bagaimana cara ia bisa sampai dan masuk ke pergaulan kerajaan tempat Ayahandanya memerintah.

Baca Juga:41 Monyet Ki Buyut BanjarLegenda Monyet Kalijaga Cirebon

Namun seperti mengetahui keresahan dalam pikiran cucunya, Ki Waridhenta pun berkata, “Jangan risau cucuku, barangkali pamanmu Pangeran Kejawanan akan berkunjung kemari. Masih ingatkah engkau pada pamanmu yang seorang ini?”

“Oh…hamba ingat benar. Paman Demang Kejawanan adalah orang paling hamba sukai. Hamba pun merindukan kedatangan beliau, Eyang.”

“Pamanmu akan kujadikan saksi nanti, karena Eyang sebentar lagi akan meninggalkanmu, Jaka”. Ki Waridhenta pun menyampaikan pesan firasat pada Bagus Jaka, bahwa waktunya sudah selesai mendampingi sang cucu di dunia. Hati Sang cucu pun diliputi kesedihan , tatkala Ki Wridhenta menyampaikan hal tersebut.. Dengan ketajaman dan keunggulan ilmu seizin pemilik alam, Ki Waridhenta diberi kelebihan mengetahui akan kedatangan Pangeran Kejawanan tanpa komunikasi dan waktu akhir hidupnya sendiri.

Tiba-tiba pembicaraan berhenti, sudut mata Eyang Waridhenta melirik ke arah jalan pendakian sana, lalu melontarkan senyuman sambil berujar, “ Jemputlah Pamanmu, ia benar-benar datang hari ini, dan rupanya diantar ibumu.”

Belum hilang rasa sedihnya karena firasat aneh sang kakek, Bagus Jaka pun pamit menuruni lereng bukit Ciangkup meninggalkan Eyangnya untuk menjemput kedatangan Pangeran Kejawanan. Kadang ia melayang-layang, berjalan dengan telapak tanpa menyentuh tanah. Di kelokan jalan pendakian itu Bagus Jaka benar-benar melihat kedatangan paman Demang Kejawanan bersama ibunya. Bagus Jaka pun tersenyum dengan bergumam, “Memang Eyang orang aneh, sebegini jauhnya jarak, tamu sudah diketahui.

0 Komentar