Kisah Ki Bagus Jaka, Adipati Tandha Moe dari Cirebon

arya kecamatan pasawahan kuningan 2021 0 11zon
Kecamatan Pasawahan (Wikipedia)
0 Komentar

“Hai, Jaka!, engkau tanggap rasa benar jauh-jauh sudah menghadang.” tukas Demang Kejawanan.

“Atas petunjuk eyanglah Paman, hamba disuruh menjemput,” lalu Jaka memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang. Namun raut muka sedih Jaka ditangkap oleh ibunya.

“Apa gerangan yang membuatmu tampak sedih, anakku?” tanya ibunya, namun Bagus Jaka sulit dan tak bisa menjawabnya.

Baca Juga:41 Monyet Ki Buyut BanjarLegenda Monyet Kalijaga Cirebon

“Oh, paman mengerti. Pasti kau telah diberitahu Eyangmu tentang hari akhirnya, ya? tanya paman Kejawanan.

Demang Kejawanan pun menjelaskan, bahwa hal tersebut bisa terjadi hanya atas kuasa Sang Maha Kuasa.

Eyang Waridhenta sudah berdiri tegak, tatkala mereka sampai di pelataran padepokan. Uluran tangan Eyang mengajak mereka segera menaiki pendopo pawejang. Mereka bertiga kemudian duduk bersimpuh di hadapan eyang. Sejurus kemudian suasana tampak hening.

Ki Waridhenta membuka perbincangan, “Cucuku, majulah duduk dekatku. Ulurkan tangan kananmu dan perlihatkan jari manismu. Hari ini adalah hari amanat ayahmu Eyang laksanakan. Selama ini Eyang rahasiakan, karena dia adalah rajaku dan raja kita. Raja yang paling agung.”

Sebentuk cincin permata berkilau kemudian dipasangkan Ki Waridhenta di jari Bagus Jaka. “ Cincin ini milikmu Jaka, hadiah dari ayahmu. Dan harus diserahkan apabila Eyang telah cukup memberikan ajaran ilmu kepadamu, sesuai pesan ayahmu. Nah, hari ini Eyang sudah menyerahkan kepadamu, berarti semuanya telah usai.”

Seusai salam terakhir shalat ashar berjamaah, Kyai Waridhenta menghembuskan nafas terakhirnya. Kesedihan pun menyelimuti seluruh penghuni dan alam sekitar padepokan. Bagus Jaka, ibu dan pamannya menyelesaikan pemakaman eyang. Tak hanya keluarga, masyarakat sekitar banyak yang merasakan kehilangan. Kyai Waridhenta begitu dihormati masyarakat, karena perannya mengubah wilayah sekitar padepokan yang semula dijadikan tempat pemujaan orang-orang sesat pemburu kekayaan menjadi sebaliknya.

Kesedihan demikian berat dirasakan Nyi Rasmi. Setelah kepergian Ayahandanya, begitu pun dia harus tegar menghadapi perpisahan dengan putra semata wayangnya. Dengan uraian airmata Nyi Rasmi ikhlas menerima kepahitan, demi tujuan mulia yang akan ditempuh Bagus Jaka. Setelah berpamitan kepada ibundanya dan mengunjungi pusara eyangnya, Bagus Jaka pun berangkat menuju Kota Praja dengan didampingi pamannya Demang Kejawanan.

0 Komentar