CARUBAN NAGARI-Sebuah anak panah tepat mengenai kijang yang melintas. Seorang laki-laki tampan segera mengampiri hasil buruannya diikuti bocah laki-laki dibelakangnya.
“Ramanda hebat!” ungkap polos si bocah. Sang hanya tersenyum tipis mendapati pujian dari putranya.
“Kelak kau pun akan menjadi laki-laki hebat putraku!” jawab sang ayah sambil mengelus kepala si bocah.
Baca Juga:41 Monyet Ki Buyut BanjarLegenda Monyet Kalijaga Cirebon
Setelah masa kepemimpinan Panembahan Gusti Pakungwati I (cicit Sunan Gunung Jati) berakhir. Tahun 1597 M, Kerajaan Cirebon di pimpin oleh Rajanya yang bergelar Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Ratu Girilaya II). Beliau terkenal akan ketampanannya. Selain terkenal ketampanannya, beliau pun gemar berburu.
“Ramanda, hamba ingin menangkap ular gadung itu.” ucap Bagus Jaka pada Ramandanya.
“Engkau harus hati-hati Bagus Jaka, karena ular tetaplah berbahaya.” Sahut Panembahan Ratu II kepada putranya. Tanpa menunggu lama, dengan gerak cekatan penuh keberanian bocah laki-laki itu berhasil menangkap ular gadung tersebut.
Pacet sebesar biji kemiri dari dahan pinus, menjadi sasaran hasil berburu berikutnya.
Kegemarannya berburu, menyebabkan Panembahan Ratu II sering mengajak putranya tersebut keluar masuk Hutan Ciangkup saat masih bocah. Bagus Jaka adalah putra dari Panembahan Ratu II (Raja Cirebon) dengan seorang selirnya yakni Nyi Rasmi.
Nyi Rasmi, putri dari Kyai Waridhenta yakni seorang andalan dan orang penting Kerajaan Cirebon sejak pemerintahan Panembahan Ratu I. Perubahan situasi politis kerajaan masa itu, menjadikan Kyai Wridhenta lebih memilih mengasingkan diri di daerah Bukit Ciangkup yang tenang. Di puncak Ciangkup tersebut Kyai Waridhenta mendirikan padepokan, sekaligus menumpas golongan hitam yang sudah terkenal keberadaannya, dan menjadi sebab daerah tersebut terkenal angker.
Sejak kecil sampai meningkat remaja, Bagus Jaka tumbuh dalam dominasi asuhan Sang Kakek dan Nyi Rasmi. Waktunya dihabiskan dalam gemblengan kakeknya. Beban tugas sebagai pemimpin kerajaan yang sedang ditimpa banyak masalah masa itu, menjadikan Panembahan Ratu II tidak lagi bisa mengunjungi putra dan selirnya tersebut. Beliau mengamanatkan penggemblengan pemuda Bagus Jaka pada Sang Kakek.
Baca Juga:Siapa Sosok di Doodle Google Hari Ini?Bulan Safar Nyiramkeun Pusaka Kerajaan Talaga Manggung Majalengka
Keterampilan masa kanaknya berburu bersama Ramandanya juga, menjadikan Bagus Jaka tumbuh menjadi pemuda yang amat pandai menjinakkan binatang.
