Sejarawan memang mempunyai kebebasan dalam rekonstruksi. Jika diibaratkan korek api, yang mengikat sejarawan adalah ‘batang korek’ (yang berupa fakta sejarah), ia dapat menyusunnya menjadi rumah-rumahan, orang-orangan, petak-petakan, dan sebagainya. Sejarawan juga diibaratkan dalang. Ia dapat memainkan apa saja, tetapi dibatasi oleh dua hal, yaitu wayang dan lakon. Wayang sebagai fakta, dan lakon sebagai tema yang dipilih. Meski demikian, sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Kebenaran sejarah terletak dalam kesediaan sejarawan untuk meneliti sumber sejarah secara tuntas, sehingga diharapkan ia akan mengungkap secara objektif. Hasil akhir yang diharapkan ialah kecocokan antara pemahamansejarawan dengan fakta.
Sebagai pegiat sejarah, penulis tergelitik saat membaca artikel Harian Rakyat Cirebon, Jumat 2 Desember 2022 berjudul Pemkot Bisa Ambil Alih Keraton Kasepuhan. Halaman depan harian tersebut menampilkan empat tokoh

Dalam harian tersebut, mengutip pernyataan sejarawan R. Subagja, “Melihat sejarahnya, maka untuk saat ini penyelesaian konflik di Keraton Kasepuhan Cirebon haruslah dicari solusi yang dapat mengakomodir seluruh kepentingan wargi. Dengan sebuah prinsip kraton bukanlah milik perorangan atau wargi tertentu. Melainkan milik seluruh wargi. Jadi dalam hal ini harus ada kedewasaan dari dua pihak yang berselisih.“
Baca Juga:Mauna Loa, Gunung Api Terbesar di Dunia MeletusMadinah Iman Wisata Bareng JMSI Bantu Warga Terdampak Gempa Cianjur
Menurut pendapat dan sejauh amatan saya bahwa polemik kraton Kasepuhan Cirebon selama ini yang terekam baik di media massa dan media sosial adalah terletak pada suksesi kepemimpinan dan persoalan tanah.
Fokus perhatian terpenting pemerintah adalah perkara yang telah menjadi fakta hukum dan sejarah. Terutama periode setelah wafatnya Sultan Sepuh XI atau Sultan Aluda Tajul Arifin menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Kraton Kasepuhan. Dalam Historiografi Cirebon fase ini dianggap sebagai ‘sejarah peteng’.
Salah satu tema perbincangan terkait periode ‘sejarah peteng’ adalah tentang silsilah Sultan Sepuh XI atau Sultan Aluda Tajul Arifin dan Alexander naik tahta menjadi Sultan Kasepuhan ke XII, dengan gelar Sultan Sepuh Raja Rajaningrat yang kemudian berlanjut kepada Luqman Zulkaedin yang bergelar Sultan Sepuh XV.
